Mengenal "Thomas", Lokomotif Uap Zaman Belanda di Pabrik Gula Poerwodadie

Kereta tua kusam berwarna hijau tua perlahan-lahan mendorong puluhan lori berisi tebu menuju Pabrik Gula (PG) Poerwodadie Kabupaten Magetan

Mengenal
KOMPAS.com/SUKOCO
Lokomotif buatan pabrik Orenstein & Koppel Jerman pada tahun 1910 yang masih dioperasikan di PG Poerwodadie Magetan. 

Untuk menyiasati kebutuhan suku cadang, para teknisi berusaha membuat sendiri atau memasang suku cadang dari lokomotif lain yang sudah rusak.

“Kadang pakai suku cadang dari lokomotif yang sudah rusak. Beberapa suku cadang kita buat sendiri,” jelas lelaki yang bekerja di PG Poerwodadie sejak tahun 1988 itu.

Kerusakan sering terjadi pada klep bagian pemanas air serta lampet atau pipa kecil yang jumlahnya puluhan yang berada di dalam mesin pemanas air.

"Bikin sendiri kalau rusak dari pipa besi. Kita potongin baru dilas,” kata Suyatno.

Ia menambahkan, sebagian besar lokomotif dipensiunkan karena ketel untuk memanaskan air sudah mulai tipis. Tingginya tekanan pada ketel air dikhawatirkan akan membuat lokomotif meledak jika nekat difungsikan.

"Cek tebal tipisnya dipukul. Kalau suara tung tung artinya masih tebal. Kalau suaranya sudah teng teng artinya sudah tipis,” ucapnya.

Masinis Suyitno mengaku tidak susah mengoperasikan lokomotif zaman Belanda tersebut.

Ia cukup memainkan rem dan membuka kran tekanan untuk mendorong tenaga dari mesin uap agar lokomotif jalan. Hanya saja untuk mengeram, butuh pengalaman.

"Rem disini kan berhentinya bisa lima sampai sepuluh meter. Jadi butuh perasaan ngeremnya,” terangnya.

Selain itu, mengoperasikan lokomotif kuno membutuhkan kesabaran karena menggunakan bahan bakar kayu dan limbah tebu yang kering. Butuh waktu lima jam memanaskan air hingga ada tekanan untuk menggerakkan lokomotif.

Halaman
123
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved