ACT Ajak Syekh asal Palestina Update Kondisi Terkini Pascaserangan Ramadan

Setidaknya 10.000 ton bahan pangan akan disalurkan untuk masyarakat Palestina dan sudah dimulai sejak awal pekan ini.

ACT Ajak Syekh asal Palestina Update Kondisi Terkini Pascaserangan Ramadan
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumut dalam acara pemaparan dan Update Kondisi Terkini Gaza Palestina yang dibawakan langsung oleh Syekh Palestina, Syekh Abdalrahman N.M. Murad, di Mie Ayam Mahmud, Jalan Abdullan Lubis nomor 71 Merdeka. 

TRIBUN-MEDAN.com - Dua malam menjelang Ramadan, Palestina tengah berduka.

Hal tersebut disebabkan serangan udara dari Israel, yang melintasi perbatasan Gaza yang terus digencarkan.

Setidaknya serangan udara meledak sedikitnya di 60 wilayah yang menjadi target sasaran, seminggu yang lalu. Sejak serangan tersebut, 27 jiwa telah melayang, 177 orang terluka, 700 bangunan di sepanjang Jalur Gaza luluh lantak.

Hal tersebut disampaikan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumut dalam acara pemaparan dan Update Kondisi Terkini Gaza Palestina sekaligus buka bersama ACT Sumut yang dibawakan langsung oleh Syekh Palestina, Syekh Abdalrahman N.M. Murad di Mie Ayam Mahmud, Jalan Abdullan Lubis nomor 71 Merdeka, Medan.

Merespons krisis tersebut juga, ACT memastikan bantuan Ramadan untuk Palestina dapat tersalurkan.

Hal ini disampaikan oleh Presiden ACT, Ahyudi dalam konferensi pers bertajuk 'Bersama bela Palestina dengan Kedermawanan' di bilangan Jakarta Selatan, seminggu yang lalu.

Selain itu, ACT juga mengajak masyarakat Indonesia ikut berpartisipasi meringankan beban Palestina. Sejak 1 April hingga 27 Mei mendatang, ACT telah menyebar 13 Syekh asal Palestina di beberapa titik di Indonesia, untuk bertausiyah sekaligus menggalang dana untuk Palestina.

Untuk sehari setidaknya 1 syekh menyambangi 3 lokasi, baik itu di masjid maupun sekolah.

Ahyudin memaparkan, kini warga Palestina mesti hidup dalam kondisi kebingungan yang luar biasa. Mereka tak hanya hidup dalam bidikan teror, namun juga dalam belenggu krisis pangan dan kebutuhan pokok lainnya.

"Tanpa serangan kali ini pun, kehidupan negara itu sudah lumpuh. Bayangkan, 86% dari mereka hidup tergantung dari uluran tangan bangsa lain. Jadi mari kita bayangkan kehidupan yang sedemikian dramatisnya, sedemikian luluh mantannya akibat dari serangan ini," ujar Ahyudin.

Halaman
123
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved