Ketua Asita Sumut Heran: Musim Sepi dan Ramai, Harga Tiket Pesawat Tetap Mahal

“Ada keanehan yang kami lihat. Musim sepi dan musim ramai, harga tiket pesawat tetap mahal,” ujar Nasution.

Ketua Asita Sumut Heran: Musim Sepi dan Ramai, Harga Tiket Pesawat Tetap Mahal
Wikipedia
Pesawat Lion Air dan Garuda Indonesia. 

TRIBUN-MEDAN.com - Ketua Asosiasasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Sumatera Utara (Sumut) menilai perkembangan harga tiket pesawat dalam negeri mengherankan.

Ketua Asita Sumut Solahudin Nasution, mengatakan, harga tiket pesawat memang sudah turun namun hanya 12 persen hingga 16 persen. Sementara kenaikan harga sempat mencapai di atas 40 persen.

“Ada keanehan yang kami lihat. Musim sepi dan musim ramai, harga tiket pesawat tetap mahal,” ujarnya, Kamis (16/5/2019).

Pemain di layanan penerbangan juga sudah jauh berbeda karena saat ini hanya ada sedikit kompetisi. 

Baca: Gara-gara Tiket Pesawat Mahal, Bandara Kualanamu Rugi Rp 2 Miliar per Bulan

Baca: Lion Air Group Sediakan 20.150 Kursi Tambahan Khusus untuk Layanan Domestik Sambut Ramadhan

Baca: Sempat Bersikukuh tak Mau Turunkan Tiket Pesawat, Akhirnya Garuda Menyerah pada Menhub Budi Karya

“Sekarang yang kita lihat sudah menjadi dua kekuatan saja, yaitu Garuda Group yang di dalamnya ada Citilink, Sriwijaya dan Nam Air. Kemudian ada Lion Group yang didalamnya ada Batik dan Wings,” jelasnya.

Akibatnya, kata Nasution, dua grup ini cenderung terlihat kompak dalam penetapan harga tiket peswatbaik saat musim sepi maupun musim ramai.

“Pada musim sepi pun mereka kompak memberikan harga di tarif batas atas dan hal tersebut merupakan suatu keanehan,” terangnya.

Ia menuturkan, tidak ada persaingan antara airlines di Indonesia tersebut kemudian menimbulkan keanehandan menjadi tanda tanya besar sehingga wajar jika orang menduga-duga ada apa dengan hal tersebut apakah ada kartel atau lainnya.

“Penurunan harga tiket pesawat tidak atau belum memberikan kontribusi positif terutama untuk menggerakan pariwisata seperti di Sumut,” tuturnya.

Ia berpendapat tingginya harga tiket pesawat ini tidak mendukung program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan pariwisata. 

“Sekarangkan kita lihat pemerintah seolah-olah ingin menyahuti derasnya tuntutan masyarakat tentang mahalnya harga tiket pesawat. Tapi tidak menyelesaikan substansi dan tidak menyelesaikan persoalan keresahan dan kegelisahan masyarakat tentang tingginya harga tiket di dalam negeri kalau kita bandingkan dengan tiket ke luar negeri,” ungkapnya.

Ia mengatakan, jika terus dibiarkan maka yang rugi adalah Indonesia karena hal tersebut memberikan keuntungan kepada negara-negara tetangga. Orang akan lebih memilih melakukan perjalanan wisata ke luar negeri dibandingkan ke dalam negeri karena ongkosnya yang relatif mahal.

“Contoh tiket dari Medan ke Bali, harga tiketnya sudah sama dengan harga tiket Medan ke Jepang.

Sejak harga tiket mahal, kita melihat keterpurukan usaha di sektor pariwisata. Jika terus dibiarkan bisa berakibat fatal, saat ini saja sudah 40 sampai 50 persen terpuruk,” katanya. (pra/tribun-medan.com)

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved