Isu Mahasiswi Dilecehkan Oknum Dosen USU Viral di Kampus, BEM Akan Telusuri ke Dekan

Dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum dosen Fisip USU berinisial HS terhadap mahasiswi sudah menyebar di “Kampus Hijau" tersebut.

Isu Mahasiswi Dilecehkan Oknum Dosen USU Viral di Kampus, BEM Akan Telusuri ke Dekan
Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan
Ilustrasi korban pelecehan seksual. (Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan) 

Tribun: Kemudian apa lagi yang terjadi?
Mawar: Seminggu setelahnya, si HS kembali menghubungi aku. Pada hari Selasa tanggal 25 Juli 2017, HS mengajakku bergabung proyek penelitiannya di Serdang Bedagai. Penelitian kali ini tentang BKKBN. Sebelumnya kami berkomunikasi via chat WhatsApp, dia menjelaskan bahwa akan ada tim dan aku mengenal baik orang-orang yang disebutkannya.

Tribun: Apakah kali kedua mengikuti penelitian anda langsung turut serta bersama sang dosen?
Mawar: Aku kembali diizinkan orangtua yang membuatku tertarik untuk kembali ikut karena sebelumnya dia menawarkan untuk mengajariku SSPS. Wajar saja aku tertarik karena memang dalam waktu dekat aku akan skripsian dan aku tahu butuh pengetahuan untuk itu.

Tribun: Kemudian apa yang terjadi?
Mawar: Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 11 pagi. Kami bertemu di RM Cindelaras Serdang Bedagai. Aku juga membawa peralatan mandi dan pakaian di dalam tas punggungku. Pada saat itu aku memakai baju lengan panjang dilapisi jaket dan celana jeans. Setelah kami bertemu sekitar pukul 1 siang, dia bilang untuk makan siang di RM Cindelaras. Saat kutanyakan di mana tim yang lain, dia bilang nanti nyusul. Kemudian kami bergerak ke hotel di seberang RM Cindelaras.

Tribun: Apakah Anda ingat persis lokasi hotel tersebut?
Mawar: Lokasi hotelnya agak melewati RM. Dia mengatakan “kita check in aja dulu biar gak ribet, sore baru bergerak ke masyarakat”. Aku pun menyetujuinya. Pada saat mau check in aku merasa aneh. Ia memesan kamar dengan dua bed dengan alasan lebih murah tapi kutentang dengan alasan tidak nyaman dan pandangan buruk terhadap kami.

Baca: Ani Hasibuan - Klarifikasi dr Ani Hasibuan, Bantah Berita Penyebab Kematian Massal Anggota KPPS

Tribun: Bagaimana penolakan yang Anda lakukan?
Mawar: Aku mengira pasti sudah ada dana untuk penelitian, jadi bagaimanapun tidak ada alasan murah. Akhirnya dia setuju check in beda kamar. Setelah melihat kamarnya, dia beralih ke kamarku. Dia minta izin masuk dengan alasan mau diskusi sebentar dan aku diminta membaca kuesioner yang dia buat. Bagiku karena HS yang membuat kurasa tidak ada kesalahan.

Tribun: Kemudian apa yang terjadi?
Mawar: Perasaanku tidak enak karena kami hanya berdua di dalam kamar. Pintu kamar ditutup dengan alasan supaya AC tidak keluar ruangan kamar. Dia memulai obrolan dengan mengaku tidak bisa tidur karena minum kopi. Aku masih tetap merespons obrolan sesuai batasan dosen dan mahasiswi. Aku masih sibuk main HPku. Aku chat dengan pacarku saat itu dan mengadu mengenai situasi dan perasaanku saaat itu.

Tribun: Apa yang Anda rasakan saat itu?
Mawar: Aku minta tolong. Aku ingin kabur. Pacarku mendorongku untuk keluar dari kamar secepatnya. Pacarku tetap menemaniku dari WhatsApp. Tiba-tiba HS mengambil powerbank dari atas pahaku dan meminta HP-ku agar dicharger saja. Permintaan itu karena takut HP mati dan tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun.

Tribun: Kemudian apa yang terjadi selanjutnya?
Mawar: Tiba-tiba dia mendekatiku dan alat kelaminnya mengenai pahaku. Aku panik dan melompat dari tempat tidur bergegas ke arah pintu, keluar dan berlari ke lantai bawah.

Tribun: Lantas siapa yang pertama Anda temui?
Mawar: Aku sempat tanya ke resepsionis apakah teriakan dari kamar atas akan terdengar ke bawah, dan mereka bilang tidak akan dengar. Terus aku menelepon mamaku dan bilang akan pulang. Aku takut. Mamaku pun menyuruhku untuk segera pulang. Tak lama setelah itu HS meneleponku menanyakan aku di mana.

Tribun: Lalu apa yang Anda lakukan?
Mawar: Kubilang aku harus pulang karena ada keluarga meninggal. Alasanku diragukan tapi aku tak peduli. Dia mau mengantar sampai ke pinggir jalan raya untuk mengambil bus sembari menyodorkan uang Rp 100 ribu sebagai ganti ongkos.

Baca: 6 Masjid Tua dan Bersejarah di Kota Medan, Berdiri Kokoh dan Megah di Usia Ratusan Tahun

Tribun: Uang itu Anda terima?
Mawar: Iya, karena dia tidak memperbolehkan aku pulang sebelum menerima uang itu.

Tribun: Apakah hanya Anda yang menerima perlakuan serupa dari pelaku?
Mawar: Tidak, kami ada tiga orang yang diduga menerima perlakuan yang sama, modusnya juga penelitian.

Tribun: Apakah Anda melaporkan kepada otoritas fakultas?
Mawar: Kampus ingin berita ini tidak keluar, kami diminta menjaga nama baik kampus. Kami diberikan ultimatum, saya diminta untuk tidak dendam dengan siapa pun.

Tribun: Lalu, kenapa Anda berani ungkap masalah ini ke media?
Mawar: Awalnya aku menunggu skripsiku kelar agar kasus ini tidak mengganggu skripsiku. Aku berani ngomong ini karena telah kutahan beberapa lama.

Tribun: Bagaimana respons orang-orang terdekat Anda?
Mawar: Banyak yang menilai aku berlebihan. Tapi, menurutku sikap ini perlu dibuka agar korban lain mau berbicara. Karena ini merugikan mental, psikologis kami kaum perempuan.(pra/tribun-medan.com)

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved