Jocelyn Tobing Tersedu-Sedu Divonis 16 Bulan akibat Ujaran Kebencian di FB

Jocelyn Isabella Tobing (30) menangis tersedu-sedu saat dihukum penjara 1 tahun 4 bulan akibat statusnya di Facebook .

Jocelyn Tobing Tersedu-Sedu Divonis 16 Bulan akibat Ujaran Kebencian di FB
Tribun Medan/Victory Arrival Hutauruk
Jocelyn Isabella Tobing (30) menangis tersedu-sedu divonis penjara 1 tahun 4 bulan karena statusnya di Facebook yang bernada ujaran kebencian di Pengadilan Negeri Medan, Jumat (17/5/2019). 

"Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan, untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan Individu dan atau Kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama dan golongan (SARA)," tuturnya.

JPU Kharya menyebutkan bahwa status tersebut dituliskan terdakwa karena kesal galon air yang ada di depan rumahnya hilang.

"Pada 30 Juli 2018 sekira pukul 00.00 WIB terdakwa merasa jengkel dan marah terhadap ditujukan kepada seorang tetangga terdakwa yaitu saksi Waty. Dimana pada saat itu terdakwa telah kehilangan 2 buah galon air minum isi ulang dari teras depan rumah terdakwa dan terdakwa menduga Waty yang telah mengambilnya," jelasnya.

Lalu atas dugaan tersebut, terjadi pertengkaran antara terdakwa dengan suaminya yang membuat Jocelyn kesal dan meluapkannya di media sosial.

"Kemudian terdakwa ribut dan bertengkar dengan suami terdakwa perihal tersebut yang mengakibatkan terdakwa menjadi emosi dan marah, lalu terdakwa membuka akun Facebook. Kemudian membuat postingan di akun facebook milik terdakwa tersebut dengan menggunakan android Samsung," tambahnya.

Akibat dari postingan terdakwa yang menyebarkan informasi yang ditunjukkan untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan Individu atau Kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama dan golongan (SARA) atau penistaan terhadap agama Islam

"Atas laporan dari Front Pembela Islam (FPI) selaku Umat Islam merasa keberatan atas perbuatan terdakwa dan melaporkan terdakwa ke Polrestabes Medan," jelas Jaksa.

Saat ditanyai, Hakim Gosen, terdakwa menyebutkan dirinya kesal akibat dan status tersebut hanya sebagai bentuk kekesalan bukan berniat untuk menjelekkan agama tertentu.

"Saya terbawa emosi Pak Hakim, kejadiannya tanpa kusadari. Dan saya menyesal sedalam-dalamnya, dan saya juga sudah minta maaf kepada Ibu Waty. Enggak bakal saya mauu ulangi lagi," tuturnya sambil meneteskan air mata.

Bahkan, karena kejadian tersebut, terdakwa diceraikan oleh suaminya yang saat ini memiliki 2 orang anak.

"Saya diceraikan sama suami saya dia enggak mau tanggung-jawab atas kejadian yang menimpa saya ini. Anak saya ada dua orang kecil-kecil masih di rumah," tuturnya dengan tersedu-sedu.

(vic/tribunmedan.com)

Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved