TRIBUNWIKI

GPIB Immanuel Gereja Tertua di Kota Medan, Sebelumnya Bernama Indische Kerk

Gereja tersebut dibangun berdasarkan arsip lembaran Kenagaraan Belanda tahun 1912 Nomor 497 bangunan telah dibangun sekitar tahun 1912.

GPIB Immanuel Gereja Tertua di Kota Medan, Sebelumnya Bernama Indische Kerk
Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
GPIB Immanuel Gereja Tertua di Kota Medan, Sebelumnya Bernama Indische Kerk . Gereja Protestan indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Medan. 

GPIB Immanuel Gereja Tertua di Kota Medan, Sebelumnya Bernama Indische Kerk

TRIBUN-MEDAN.com- Gereja GPIB Immanuel Medan termasuk satu di antara gereja tua dan bersejarah di Medan.

Gereja tersebut dibangun berdasarkan arsip lembaran Kenagaraan Belanda tahun 1912 Nomor 497 bangunan telah dibangun sekitar tahun 1912.

Bagian Administrasi Gereja, Gereja Protestan indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Medan, Ruth Sembiring, menceritakan bahwa Gereja GPIB Immanuel Medan merupakan peninggalan masa Hindia Belanda, hari Rabu, (22/5/2019).

Ruth juga menjelaskan pada saat itu, Gereja tersebut merupakan tempat peribadatan anggota-anggota Gereja Protestan di Hindia Belanda.

Dengan nama Indische Kerk atau Staatskerk, kemudian Gereja tersebut diserahkan oleh Walikota Medan dengan hak eigendom.

"Indische Kerk atau Staatskerk dibangun dengan gaya bangunan Renaissance, dilengkapi dengan sebuah menara. Gedung Gereja tersebut dihiasi dengan jam yang indah dan sebuah lonceng yang dapat didengar sejauh 3 Km," tuturnya.

 

Perusuh Buat Warga Shock, Lihat Mobil Dibakar, Molotov Dilempar, dan Pagar Rumah Digedor-gedor

Tips Pola Makanan Selama Puasa, Mulai dari Jenis Minuman hingga Buah yang Dianjurkan

3 Orang Tewas di Aksi 22 Mei, Amien Rais Bilang Peluru Petugas, Polisi Beri Penjelasan

Begini sejarah singkat Gereja GPIB Immanuel Medan; Keberadaan Gereja GPIB tak lepas dari masa keemasan Kota Medan di awal abad ke 19. Latar belakangnya merupakan perpindahan residen Sumatera Timur dari Bengkalis ke Medan pada tahun 1886.

Kemudian, sejak saat itu terjadilah perubahan besar-besaran terhadap wajah Kota Medan. Ketika Industri perkebunan Melayu pesat, dilakukan sebuah perjanjian kontrak antar Belanda dan pihak Kesultanan Deli.

Salah satunya adalah penyerahan landscap/tanah Kesuktanan dengan Gemeente (Pemerintah Sumatera Timur) yang ditandatangani oleh Alm. Sultan Ma'Mun Al Rasyid dan Burgemeester (Walikota) Medan pertama pada masa itu, Baron Daniel Mackay.

 

ACT Antisipasi Risiko Krisis Kemanusiaan pada Momen 22 Mei

Khusus Member TFC, Dapatkan Souvenir Menarik di Rahmat International Wildlife Museum and Gallery

Belajar Sambil Beramal di Rahmat International Wildlife Museum and Gallery

Halaman
1234
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved