Rektor USU Minta Mahasiswa Korban Pelecehan Dosen Dihadirkan

Prof Runtung Sitepu meminta mahasiswa yang menjadi korban pelecehan seksual oknum dosen Departemen Sosiologi, HS, dapat memenuhi undangan.

Penulis: Ayu Prasandi | Editor: Liston Damanik
Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Runtung Sitepu 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN-Rektor Universitas Sumatera Utara Prof Runtung Sitepu meminta mahasiswa yang menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum dosen Departemen Sosiologi, HS, dapat memenuhi undangan dari rektorat.

“Senin, 20 Mei 2019, Dekan FISIP USU Dr Muryanto Amin dan Sekretaris Prodi sudah hadir. Tetapi mahasiswa yang bersangkutan belum bersedia hadir tanpa alasan. Oleh karena itu saya meminta kepada Dekan dan Sekretaris Prodi untuk mengundang mahasiswa tersebut, agar bisa ditanyakan bagaimana sikapnya terhadap penyelesaian yang sudah ditempuh Kepala Prodi setahun yang lalu,” tuturnya, Rabu (22/5/2019).

Ia menjelaskan, jika masih belum puas dengan penyelesaian tersebut maka diimbau yang bersangkutan untuk membuat laporan lagi ke Prodi, yang ditembuskan ke Rektor, agar persoalannya dapat diselesaikan sesuai mekanisme yang berlaku.

Menanggapi pemberitaan berbagai media massa terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU) berinisial HS kepada mahasiswi yang mencuat ke publik, Dekan FISIP USU Dr Muryanto Amin memaparkan duduk persoalan berikut beberapa langkah penanganan yang telah dilakukan fakultas terhadap kasus tersebut.

Menurutnya, peristiwa tersebut terjadi pada Februari 2018 dan kasusnya telah diselesaikan dengan memberikan surat teguran atau peringatan tertulis kepada pelaku yang berinisial HS dan merupakan dosen Sosiologi.

"Dari hasil investigasi yang telah dilakukan oleh pihak Program Studi (Prodi) yang bersangkutan, di mana pelaku HS mengajar, tindakan pelanggaran yang dilakukannya masih dikategorikan dalam pelanggaran ringan,” ujarnya, Selasa (21/5/2019).

Ia menjelaskan, meskipun demikian, pihak prodi telah memberikan teguran dan pernyataan keras dalam proses investigasi serta mengeluarkan surat teguran atau peringatan kepada pelaku untuk tidak mengulangi perbuatannya.

“Adapun isi surat dekan untuk HS tersebut berbunyi, berdasarkan surat Ketua Program Studi Sosiologi, disebutkan bahwa ada upaya saudara melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswa,” jelasnya.

Ia menerangkan, sehubungan dengan hal tersebut maka disampaikan kepada HS Peringatan Tertulis agar tidak mengulangi perbuatan sebagaimana laporan tersebut di atas.

“Surat ini disampaikan sebagai bentuk pengarahan kepada saudara agar menjaga etika dan perilaku dosen serta menunjukan sikap yang patut dijadikan panutan bagi mahasiswa,” terangnya.

Ia menyayangkan tidak adanya laporan tertulis dari mahasiswa ke pihak fakultas. Mahasiswa yang menjadi korban dari tindakan tak etis HS hanya melapor secara lisan ke departemen atau jurusan.

“HS belum sempat melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswa. Namun pelaku mengakui, bahwa memang ada upaya untuk melakukan pelecehan seksual," tuturnya.

Ia mengungkapkan, kejadian tersebut terjadi tahun lalu. Namun berdasarkan informasi kasus pelecehan seksual tersebut berawal saat mahasiswi korban diajak HS untuk menemaninya melakukan penelitian ke daerah. Ajakan tersebut ditawarkan dengan iming-iming dapat memperbaiki nilai mata kuliah mahasiswi yang bersangkutan, dalam mata kuliah yang diajarkan HS. 

“Mahasiswi tersebut menyetujui karena tidak berpikir buruk. Namun, saat dalam perjalanan menuju lokasi penelitian itulah pelecehan seksual terjadi. Mahasiswi tersebut sudah melaporkan, mengadu secara lisan kepada pimpinan fakultas atau Wakil Dekan,” ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved