Breaking News:

Rektor USU Minta Mahasiswa Korban Pelecehan Dosen Dihadirkan

Prof Runtung Sitepu meminta mahasiswa yang menjadi korban pelecehan seksual oknum dosen Departemen Sosiologi, HS, dapat memenuhi undangan.

Penulis: Ayu Prasandi | Editor: Liston Damanik
Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Runtung Sitepu 

Ia menyayangkan tidak adanya laporan tertulis dari mahasiswa ke pihak fakultas. Mahasiswa yang menjadi korban dari tindakan tak etis HS hanya melapor secara lisan ke departemen atau jurusan.

“HS belum sempat melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswa. Namun pelaku mengakui, bahwa memang ada upaya untuk melakukan pelecehan seksual," tuturnya.

Ia mengungkapkan, kejadian tersebut terjadi tahun lalu. Namun berdasarkan informasi kasus pelecehan seksual tersebut berawal saat mahasiswi korban diajak HS untuk menemaninya melakukan penelitian ke daerah. Ajakan tersebut ditawarkan dengan iming-iming dapat memperbaiki nilai mata kuliah mahasiswi yang bersangkutan, dalam mata kuliah yang diajarkan HS. 

“Mahasiswi tersebut menyetujui karena tidak berpikir buruk. Namun, saat dalam perjalanan menuju lokasi penelitian itulah pelecehan seksual terjadi. Mahasiswi tersebut sudah melaporkan, mengadu secara lisan kepada pimpinan fakultas atau Wakil Dekan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, lalu wakil dekan menyarankan untuk menyampaikannya ke prodi. Ketua Prodi kemudian mendiskusikan kasusnya ke pimpinan fakultas. Pimpinan fakultas meminta agar kasus itu diselidiki dan meminta agar semua pihak yang terkait, baik pelaku maupun korban, untuk dimintai penjelasannya.

“Sejak Februari, prodi mengumpulkan bukti dan penjelasan dari berbagai pihak. Pada bulan Maret sudah didapatkan hasilnya dan dipegang oleh prodi dan kemudian kepala prodi menyampaikan surat kepada dekan dan menjelaskan bahwa ada upaya melakukan pelecehan seksual, di mana sesungguhnya sudah terjadi pelecehan seksual karena diakui oleh yang bersangkutan,” jelasnya.

Ia menerangkan, setelah mendapatkan informasi yang utuh, kepala prodi kemudian melakukan investigasi menyeluruh terhadap kasus tersebut. Dari hasil investigasi tersebut, kepala prodi menilai bahwa dosen bersalah dan telah memberikan peringatan dan pernyataan keras kepada pelaku. 

“Kepala prodi juga berinisiatif dan proaktif terhadap kasus yang menimpa mahasiswi dengan melaporkan kasus tersebut kepada pihak dekan. Bukti dan hasil investigasi yang didapat kepala prodi kemudian dilimpahkan ke pihak dekanat. Setelah membaca dan mempelajari hasil investigasi Ka Prodi itu,  kemudian pihak dekanat mengeluarkan surat teguran tertulis agar HS tidak mengulangi perbuatannya,” terangnya.

Ketika dimintai tanggapannya terkait keberadaan pelaku yang masih bebas mengajar, Muryanto Amin menjelaskan bahwa setiap sanksi atau tindakan memiliki tahapan. 

Dalam surat peringatan telah ditegaskan agar pelaku jangan sampai mengulangi kembali perbuatannya. Maka bila perbuatan tersebut dilakukan lagi, akan diambil tindakan yang lebih tegas.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved