Breaking News:

Sejarah Partipasi Pemilih di Sumut Melebihi Target Nasional

"Semakin menguatnya politik identitas yang diyakini mampu mengangkat angka partisipasi pemilih," katanya.

TRIBUN MEDAN/HO
Koordinator Daerah Sumatera Utara JPPR, Darwin Sipahutar (tengah). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Koordinator Daerah Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR) Sumatera Utara, Darwin Sipahutar mengatakan dalam sejarah bangsa Indonesia sejak dimulainya pemilu pertama tahun 1955 sampai tahun 2014, baru kali pertama dalam sejarah Indonesia melaksanakan pemilu serentak pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bersamaan dengan pemil8han legislatif.

Darwin menegaskan, walaupun terdapat banyak kekurangan baik secara teknis dan nonteknis namun yang menjadi perhatian besar adalah tingginya angka partisipasi pemilih melebihi target Komisi Pemilihan Umum(KPU).

Secara khusus untuk Sumatera Utara misalnya, angka partisipasi pemilih pada pemilu 2019 mencapai 79,91 persen yang mana angka ini menanjak jika dibanding pada pemilu 2014 mencapai 69 persen serta melebihi target secara nasional 77,5 persen.

"Tingginya angka tersebut bisa dilihat dari semakin baiknya penyelenggaraan pemilu dari tahun ke tahun, baik penyempurnaan data pemilih(DPT, DPTHP I dan DPTHP II) maupun kesiapan dari seluruh tahapan-tahapan yang tepat waktu," ujarnya kepada Tribun-www.tribun-medan.com, Kamis (23/5/2019).

Darwin menjelaskan kenaikan tersebut terlihat pada tingginya antusiasme masyarakat dalam menunaikan hak pilih.

Dikatakannya, berdasarkan JPPR Sumut pada H-2 sebelum hari pencoblosan, antusias masyarakat untuk pulang kampung cukup besar.

"Pantauan kami sepanjang Jalan SM Raja Medan saat itu Loket-loket bus membludak, masyarakat bergegas mudik agar dapat menunaikan hak pilih," tambahnya.

Menurut Darwin penyebab kenaikan partisipasi pemilih tersebut disebabkan magnet pemilihan presiden cukup besar dalam menarik partisipasi pemilih ketimbah pemilihan legislatif.

"Namun semakin menguatnya politik identitas yang diyakini mampu mengangkat angka partisipasi pemilih," katanya.

Hal tersebut kata Darwin, juga terjadi pada pelaksanaan pilkada di Sumatera Utara 2018 lalu.

Pada saat itu, tutur Darwin, partisipasi pemilih mencapai 64 persen dari 9.050.483 jiwa yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), dibanding pada pilkada 2013 yang hanya 48,5 persen dari total 10.310.872 pemilih pada DPT.

Tak hanya itu, kenaikan partisipasi pemilih tersebut kata Darwin, terkait proses sosialisasi KPU sepanjang berjalannya tahapan pemilu 2019 yang cukup signifikan.

"Kita harus berikan apresiasi kepada penyelenggara pemilu baik KPU maupun Bawaslu yang sudah menyelesaikan pekerjaan yang berat ini dengan baik, walaupun terdapat banyak korban jiwa masih menjadi catatan kita," jelasnya.

Darwin berharap untuk pelaksanaan pilkada 2020 mendatang KPU mampu memperbaiki kendala teknis maupun nonteknis, agar tidak ada lagi persoalan yang muncul dikemudian hari.

Misalnya, terkait angka partisipasi pemilih, KPU diharapkan mampu memperbaiki Daftar Pemilih agar semakin baik.

"Sebab kunci dari penurunan Golput adalah semakin baiknya penyusunan Daftar Pemilih yang disajikan," pungkasnya.

(gov/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved