PDAM Tirtauli Minta Maaf Air Tak Mengalir 24 Jam di Sebagian Wilayah Siantar

PDAM Tirtauli Kota Pematangsiantar minta maaf kepada pelanggan karena tidak lancarnya air di beberapa daerah di Kecamatan Siantar Sitalasari.

PDAM Tirtauli Minta Maaf Air Tak Mengalir 24 Jam di Sebagian Wilayah Siantar
HO
Petugas PDAM Tirtauli meninjau umbul di Naga Huta beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com - PDAM Tirtauli Kota Pematangsiantar minta maaf kepada pelanggan karena tidak lancarnya air di beberapa daerah di Kecamatan Siantar Sitalasari.

Berdasarkan surat permohonan maaf yang diterima tribun-medan.com, Jumat (24/5/2019), PDAM Tirtauli sedang berupaya memperbaiki pipa penghantar mata air di umbul Naga Huta 1 dan melakukan pemeriksaan perpipaan di Huta 1, 2, dan 3.

PDAM Tirtauli menyatakan, air sudah berjalan dengan normal tetap dengan catatan pada waktu-waktu tertentu bisa mati juga.

"Dengan melakukan perbaikan pipa penghantar mata air di naga Huta 1 dan melakukan pemeriksaan perpipaan penghantar dari naga huta 1 dan 3 sampai ke jalur Kecamatan Siantar Ditalasari. Untuk daerah paling puncak baru dapat teraliri pada jam-jam tertentu," sebutnya.

Humas PDAM Tirtauli Rosliana Sitanggang mengatakan, PDAM mohon maaf kepada para pelanggan atas terganggunya pelnyanan air minum. Rosliana mengatakan dampak yang jelas terjadi pada lokasi yang dataran tinggi. Ia berharap masyarakat dapat bersabar dengan menampung air di dalam bak.

"Kami memohon maaf untuk wilayah-wilayah yang terkena dampak menurunnya aliran mata air Naga Huta terutama berlokasi tinggi, kami menghimbau agar pelanggan yang terkena dampak aliran agar menampung kebutuhan air," katanya.

Rosliana juga menyarankan warga untuk menghubungi call centre (0622) 24017 atau 08116064448 jika membutuhkan mobil tangka air.

Rosliana juga menyinggung faktor alam yang mengakibatkan debit air menurun. Katanya, PDAM sudah berupaya dengan mengadakan 291 bak resapan untuk mengatasi musim kemarau. Ia juga mengungkapkan hal terparah pernah terjadi pada tahun 2011. Saat itu, umbul Naga Huta berhenti mengalir.

"PDAM mengalami kesulitan untuk mengatasi debit air naga huta dikarenakan kondisi alam. Paling kritis pernah terjadi pada tahun 2011 dimana aliran air naga huta 1 dan 2 sampai berhenti," ujarnya.

Diketahui sebelumnya, warga mengeluhkan tentang air yang sering terputus pada jam-jam tertentu. Bahkan, ada warga yang harus menumpang mandi ke rumah tetangga yang berbeda daerah. (tmy/tribun-medan.com)

Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved