Masjid Badiuzzaman Surbakti, Masjid Bersejarah yang Bertahan dalam Kesederhanaan

Tidak seperti masjid kebanyakan saat Bulan Ramadan, Masjid Badiuzzaman Surbakti terasa sepi.

Masjid Badiuzzaman Surbakti, Masjid Bersejarah yang Bertahan dalam Kesederhanaan
Tribun Medan/Gita Nadia Tarigan
Masjid Badiuzzaman Surbakti di Jalan PDAM Sunggal Nomor 1 Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Tidak seperti masjid kebanyakan saat Bulan Ramadan, Masjid Badiuzzaman Surbakti yang bertempat di Jalan PDAM Sunggal Nomor 1 Medan terasa sepi kegiatan. Tidak ada spanduk atau pernak-pernik khas ramadan di masjid tertua di kota Medan ini.

Masjid yang dibangun sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda ini tidak memiliki agenda khusus di Bulan Ramadan. Kegiatannya sama seperti tahun sebelumnya masjid diisi oleh salat tarawih, tadarus, dan salat lima waktu.

Pemuda setempat, Boby Hendrik Sembiring, mengatakan hal tersebut dikarenakan tidak adanya BKM ataupun remaja masjid yang mengatur kegiatan.

"Masjid ini dibangun oleh Datuk Badiuzzaman Surbakti. Beliau itu orang Karo yang beragama Islam. Beliau berperang dan berjuang melawan kompeni itu kurang lebih selama 23 tahun berkisar mulai 1872 sampai 1895, dan ini masjid sebenarnya milik pribadi beliau yang dibangun untuk masyarakat Sunggal, jadi enggak ada BKM ataupun remaja masjid," katanya, Sabtu (26/5/2019).

Boby menjelaskan, Masjid Badiuzzaman saat ini dikelola oleh generasi ketiga. Namun, kata Boby, Datuk (nama panggilan cucu pendiri masjid) sudah jarang bertandang ke Masjid dikarenakan usia dan kesehatan.

"Datuk paling cuma hari Jumat saja mampir kesini. Untuk pengelolaan masjid, kamilah warga setempat yang bantu-bantu," katanya.

Meski demikian, masjid ini tetap berdiri kokoh dan berjalan dengan baik. Jika memasuki masjid akan tampak jelas bahwa masjid ini sudah berumur.

Berbeda dari kebanyakan masjid di kota Medan, masjid ini hanya dilengkapi beberapa kipas angin, tidak ada AC sehingga udara cukup panas jika beribadah.

"Masjid inilah satu-satunya enggak mau menerima sumbangan dari pemerintah. Saya Enggak tahu apa alasannya tapi itu kebijakan nazil. ini akan mau dipasang AC, itupun dari sumbangan orang. Kalau sumbangan pribadi, kami terima. Contohnya seperti listrik dan Air dibiayai oleh PAM, karena dulu ada perjanjian, wilayah PAM itu dulunya kerajaan, tapi dahulu karena ada perjanjian dengan pemerintahan Soeharto berkisar tahun 75 dibangunlah PDAM ini," katanya.

Bagian dalam Masjid Badiuzzaman Surbakti.
Bagian dalam Masjid Badiuzzaman Surbakti. (Tribun Medan/Gita Nadia Tarigan)

Boby menambahkan, infaq masjid juga tidak dijalankan layaknya masjid lainnya.

"Infaq memang enggak jalan, baik itu saat salat Jumat atau taraweh, pokoknya kalau orang mau nyumbang silahkan, kalau enggak ya enggak apa. Iya itulah hebatnya masjid ini, dari dulu peraturannya memang begitu, semenjak saya kecil, begitu terus dipertahankan. Kami hanya sediakan kotak saja disana, karena ini dibangun untuk masyarakat, kalau bisa masyarakat jangan dibebankan," katanya.

Masjid yang dibangun pada tahun 1885 atau (1306 H) oleh datuk Badiuzzaman Surbakti ini, memiliki bentuk yang unik, yakni berbentuk segi empat dengan kubah berbentuk limas. Terdapat juga sedikit ciri khas arsitektur melayu, seperti pada jendela masjid yang di setiap sisinya berjumlah empat.

Boby mengatakan sebagian bagian masjid terbuat dari putih telur sebagai pengganti semen, sebab dahulu menurut cerita Boby yang Ia dapat langsung dari Datuk generasi ke tiga, di jaman Belanda raja-raja yang tidak ikut dengan Belanda kesulitan mendapatkan semen.

"Bahkan yang sedikit masuk semennya juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi makanya dicampur dengan putih telur, sampai saat ini bentuk-bentuknya tetap sama. Hanya ada sedikit perubahan seperti keramik dan kaca jendela. Tapi dindingnya masih tetap kokoh sampai sekarang," katanya. (cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved