Mesin Pendeteksi Kertas Temuan Anak Petani asal Sumut Ini Bakal Diuji Kemenristek Dikti

Ia berhasil membuat mesin pendeteksi kertas kuno bersama kedua temannya Muhammad Arif Syahron dan Samaiyah.

Tayang:
Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN MEDAN/IST
Mahasiswa UNIMED, Muhammad Galah Nasution. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Muhammad Falah Nasution bisa dibilang sebagai salahsatu mahasiswa berprestasi di Universitas Negeri Medan.

Mengapa demikian, Pemuda 22 tahun kelahiran 1 Februari 1997 ini berhasil membuat mesin pendeteksi kertas kuno bersama kedua temannya Muhammad Arif Syahron dan Samaiyah.

Prestasinya pun tak hanya itu. Sebelumnya, saat ia masuk ke Universitas Negeri Medan (UNIMED), Falah merupakan mahasiswa asal SMA negeri di Mandailing Natal yang lulus kuliah melalui jalur bidikmisi.

"Alhamdulillah karena kemarin itu lulus dari jalur bidik misi. Sekarang karena lulus dapat beasiswa, saya mencoba bersama teman-teman dapat memberikan kontribusi dengan membuat karya cipta," ujar bungsu ini malu-malu.

Baca: Tiga Mahasiswa Unimed Ini Temukan Alat Pendeteksi Kertas Kuno, Simak Kisahnya

Kreasi mesin pendeteksi kertas yang digagas tiga mahasiswa UNIMED
Kreasi mesin pendeteksi kertas yang digagas tiga mahasiswa UNIMED (TRIBUN MEDAN/IST)

Falah yang masih berbicara dengan aksen mandailingnya ini berpendapat bahwa mesin pendeteksi kertas yang ia dan teman-temannya berhasil diciptakan merupakan salahsatu karya yang berbeda.

Saat ini, menurut pengetahuannya, alat pendeteksian kertas maupun benda-benda peninggalan atau kuno masih minim. Adapaun cara pendeteksian masih dengan alat dan bahan-bahan kimia yang rentan merusak kertas ataupun benda itu sendiri.

"Kalau kita, melakukan pendeteksian dengan membandingkan kertas. Kita membandingkan kertas-kertas kuno dengan parameter rata-rata 20 tahun edisi. jadi kenapa 20 tahun, karena kertas lebih mudah dilihat perbedaannya selama rentang 20 tahun," katanya.

Kreasi mesin pendeteksi kertas yang digagas tiga mahasiswa UNIMED.
Kreasi mesin pendeteksi kertas yang digagas tiga mahasiswa UNIMED. (TRIBUN MEDAN/IST)

Kepada Tribun Medan, Senin (27/5/2019) penemu mesin pendeteksi kertas kuno bernama Hodmach ini mengatakan bahwa selama kuliah dirinya dibantu oleh abang-abangnya yang sudah bekerja.

"Setiap semester kan memang dapat juga beasiswa, tapi masih kurang. alhamdulillah abang-abang saya ada tiga dan bekerja. Ganti-gantian biasanya mereka ngebantu saya di kos," Ujar Falah yang mengaku sebagai anak seorang petani padi ini.

Ia berharap alat pendeteksi kertasnya mendapat nilai terbaik oleh Kemenristek Dikti RI saat penilaian pada Bulan Juni 2019 di Bali. Selain itu ia ingin apa yang ia danteman-temannya kerjakan dapat dukungan dari segala pihak untuk dirinya saat ini dan ke depan.

"Ke depan saya ingin tuh jadi guru, karena pendidikan saya kan SPD. Saya juga ingin juga jadi sejarawan yang punya karya," Harap Falah.

(cr15/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved