Tiga Mahasiswa Unimed Ini Temukan Alat Pendeteksi Kertas Kuno, Simak Kisahnya

Mesin tersebut diberi nama Hodmach, Historycal Object Detection Machine, yang berhasil dirakit ketiga mahasiswa hampir satu tahun.

Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN MEDAN/IST
Kreasi mesin pendeteksi kertas yang digagas tiga mahasiswa UNIMED guna melaksanakan program PKM Kemenristek Dikti RI yang akan dilaksanakan Juni 2019 di Bali. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tak banyak yang menyangka, dengan menggabungkan keilmuan di Pendidikan Elektronika dan Sejarah, tiga mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) berhasil menemukan mesin pendeteksi kertas sejarah.

Mesin tersebut diberi nama Hodmach, Historycal Object Detection Machine, yang berhasil dirakit ketiga mahasiswa hampir satu tahun.

Penemuan masin pendeteksi usia kertas ini, ditemukan Muhammad Falah Nasution (Pendidikan Sejarah), Muhammad Arif Syahron (Pendidikan Teknik Elektro) dan Samaiyah (Pendidikan Sejarah).

Ketiga mahasiswa semester enam ini dengan ulet mampu merakit mesin pendeteksi usia kertas dari Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) 2019 yang digagas Kemenristek Dikti.

Kreasi mesin pendeteksi kertas yang digagas tiga mahasiswa UNIMED.
Kreasi mesin pendeteksi kertas yang digagas tiga mahasiswa UNIMED. (TRIBUN MEDAN/IST)

"Jadi, PKM Kemenristekdikti itu ada berbagai bidang yang dilombakan. ada yang PKM Penelitian, PKM Pengabdian, PKM Kewirausahaan, PKM Teknologi dan PKM Karya Cipta. Nah, kami ini yang coba-coba ikut di PKM Karya Cipta," ujar Muhammad Falah yang menjadi tim PKM Karya Cipta pendeteksi kertas kuno.

Awal-awal dikatakannya, PKM merupakan program yang digagas untuk anak-anak yang kuliah melalui jalur beasiswa Bidik Misi.

Hal tersebut dilakukan agar peraih beasiswa dapat bertanggung jawab melahirkan karya di perguruan tinggi. Akan tetapi pada tahun 2019, PKM dihentikan.

"Jadi sekarang tuntutan berkarya oleh mahasiswa bidik misi itu dihentikan, tapi saya dan teman-teman merasa gak lantas diam begitu saja. kami coba deh melanjutkan temuan kami ini," ujar Falah.

Falah melanjutkan, bahwa satu temannya Samaiyah merupakan orang yang punya ide-ide kreatif.

Samaiyah dijelaskannya pernah ikut PKM pada tahun 2018.

Namun tak sampai di situ, Samaiyah mengajak dirinya dan Arif Syahron untuk ikut PKM Karya Cipta Kemenristekdikti di Tahun 2019.

Kemudian, mereka pun memadukan sejarah dan elektronika dengan bimbingan Dosen Mustammam MT untuk membuat mesin pendeteksi kertas kuno. Falah menambahkan, mesin tersebut pun dirancang secara komputerisasi  dengan menyisipkan berbagai rekaman kertas kuno ke dalam aplikasi bernama Ardino Uno.

Tiga Mahasiswa Unimed Temukan Alat Pendeteksi Kertas Kuno.
Tiga Mahasiswa Unimed Temukan Alat Pendeteksi Kertas Kuno. (TRIBUN MEDAN/HO)

Lebih lanjut di dalam mesin tersebut pun disertai Led dan Chip yang nantinya akan menyesuaikan kertas yang akan diuji usianya dengan rekaman kertas yang telah diinput di dalam Ardino Uno, selaku otak mesinnya.

"Kita input ke dalam aplikasi mesin, berbagai sample kertas kuno yang kita dapat dari Laboratorium Unimed. Kita pun memasukkan lima sample kertas tahun 1893, kertas tahun 1902, kertas tahun 1923, kertas tahun 1940, da nkertas tahun 1984 sebagai parameternya," ujar Falah.

Selanjutnya untuk pengujian, kertas yang akan diuji akan dimasukkan ke dalam mesin yang berbentuk seperti peti kayu tersebut, dengan terlebih dahulu menginput prediksi tahun kertas. Setelah itu, mesinakan melakukan scan.

"Ada tiga indikator yang akan diuji mesin, pertama warna kertas, kedua tekstur dan ketiga adalah ketebalan kertas sendiri," ujar Falah.

Namun begitu hasil pendeteksian, dijelaskan Falah masih bersifat rata-rata atau perkiraan.

Lantaran, dijelaskannya bahwa Hodmach masih perlu pemutakhiran, dan perlu biaya yang lebih banyak untuk dilakukan pengembangan dengan berbagai perangkat-perangkat tambahan agar hasil dapat dinyartakan lebih valid.

"Kita juga akan dimonitori oleh UNIMED sebelum berlanjut ke penilaian yang diusung Kemenristekdikti pada Juni 2019," ujar Falah.

Terpisah Dosen Pembimbing (Doping) Ketiga mahasiswa Mustamam MT mengatakan perangkat pendeteksi kertas kuno (Hodmach) akan diuji (monitoring) pada Selasa (28/5/2019) besok di Unimed.

Monitoring tersebut dilaksanakan guna memutakhirkan Hodmach.

"Jadi Hodmach ini sudah setahun kita susun dan diajukan anak-anak. Namun pembuat Hodmach baru satu atau dua bulan dikerjakan karena kita butuh anggaran dari Nasional dalam hal ini Kemenristekdikti," ujar Mustamam.

Sambungnya, Kemenristek Dikti pun mengucurkan anggaran melalui UNIMED sebagai dukungan program kreatfitias mahasiswa. Namun begitu dikatakannya, anggaran yang dikucurkan masih tergolong kecil.

"Jadi kita semaksimal mungkin bagaimana agar mesin pendeteksi ini bisa aktif. Kita ingin mahasiswa dapat terus berkarya tanpa terbatas dengan finansial. Mudah-mudahan dukungan ke depan lebih banyak lagi," ujar Mustamam. 

(cr15/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved