Tim Pembunuh Bayaran; Desertir TNI AD, Eks Prajurit Marinir, hingga Istri Mayjen (Purn) TNI

Para pelaku di tim pembunuh bayaran ini juga bukan orang sembarangan. Mereka merupakan orang-orang profesional.

Tim Pembunuh Bayaran; Desertir TNI AD, Eks Prajurit Marinir, hingga Istri Mayjen (Purn) TNI
Repro KompasTV
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol M Iqbal didampingi pejabat TNI menjelaskan rencana pembunuhan 4 tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei serta pembelian senjata api, Senin (27/5/2019) di Mabes Polri. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Mabes Polri dibantu Mabes TNI terus mendalami keterangan terkait kelompok pembunuh bayaran yang mengincar nyawa empat jenderal purnawirawan yang jadi pejabat negara, serta seorang pimpinan lembaga survei.

Pendalaman terhadap kelompok ini bukan tanpa alasan. Selain target pembunuhan adalah pejabat-pejabat yang berlatar belakang jenderal, para pelaku di tim pembunuh bayaran ini juga bukan orang sembarangan. Menurut kepolisian, tersangka pembunuh bayaran ini merupakan orang-orang profesional.

Keempat pejabat yang diincar tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere, yang juga perintis pembentukan Densus 88 Antiteror Polri.

Sementara di tim pembunuh bayaran, setidaknya tiga dari enam tersangka sudah teridentifikasi latar belakangnya.

Baca: INILAH Mantan Marinir Tajudin Pembunuh Bayaran yang Incar Empat Jenderal saat Kerusuhan 22 Mei

Baca: KEJUTAN Tersangka Kasus Makar Eggi Sudjana, Cabut Gugatan Praperadilan Tanpa Alasan Rinci

Baca: UPDATE Pembunuh Bayaran, Anak AF: Ibu Gadai Senjata Rp 25 Juta! Sebut HK alias Iwan Mantan Kopassus

Pertama adalah IR atau Irfansyah (45). Ia merupakan perantau asal Medan, Sumatera Utara, yang beberapa tahun belakangan bermukim di Jakarta.

Di kelompok pembunuh bayaran yang memanfaatkan momentum aksi demonstrasi 21-22 Mei, IR berperan sebagai eksekutor.

Peran IR sebagai eksekutor bukan tanpa alasan. Ia adalah desertir TNI Angkatan Darat (AD) sekitar lima tahun silam.

Ia tercatat menjadi prajurit Kartika Eka Paksi di wilayah Sumut. Namun, sejauh ini belum diketahui kesatuan IR di lingkungan militer Sumut.

Kadiv Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menunjukkan foto tersangka IR dalam konferensi pers kasus kepemilikan senjata yang akan digunakan dalam aksi kerusuhan 21 dan 22 Mei dan rencana pembunuhan. Konferensi pers berlangsung di Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2019).
Kadiv Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal menunjukkan foto tersangka IR dalam konferensi pers kasus kepemilikan senjata yang akan digunakan dalam aksi kerusuhan 21 dan 22 Mei dan rencana pembunuhan. Konferensi pers berlangsung di Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2019). (Tangkapan layar Kompas TV)

 

Menurut kepolisian, Irfansyah berperan sebagai eksekutor dan telah menerima bayaran sebesar Rp 5 juta dari HK, pemimpin kelompok pembunuh bayaran.

"(IR) diperintahkan untuk mengeksekusi dan tersangka IR sudah mendapat uang sebesar Rp 5 juta," terang Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal dalam jumpa pers, Senin (27/5/2918).

Halaman
1234
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved