Hari Raya Idul Fitri
Potret Toleransi Beragama pada Perayaan Idul Fitri di Indonesia
Hari ini, Rabu (5/6/2019), umat Islam merayakan Idul Fitri 1440 H. Linimasa media sosial hingga grup WhatsApp dipenuhi ucapan saling memaafkan
Penulis: Hendrik Naipospos | Editor: Hendrik Naipospos
TRIBUN-MEDAN.COM - Hari ini, Rabu (5/6/2019), umat Islam merayakan Idul Fitri 1440 H.
Linimasa media sosial hingga grup WhatsApp dipenuhi ucapan saling memaafkan.
Di sisi lain, potret toleransi terlihat diberbagai kota di Indonesia saat Muslim melakukan Salat Ied.
Di antaranya Salat Ied di halaman gereja seperti yang terjadi di Kota Maumere, Nusa Tenggara Timut (NTT).
Tema yang diusung dalam perayaan Idul Fitri tahun ini di Maumere yaitu "Dengan Semangat Idul Fitri 1440 Hijriah, Kita Tingkatkan Iman dan Taqwa untuk Memperkokoh Rasa Persaudaraan Antar Sesama Umat di Kabupaten Sikka"
Tonton kolasenya;
Ayo subscribe channel YouTube Tribun MedanTV
SBY dan Keluarga Maafkan Prabowo Subianto yang Umbar Sikap Politik Ani Yudhoyono
Toleransi Beragama di Hari Raya Idul Fitri, Ribuan Umat Islam Shalat Id di Depan Gereja
Tak hanya di NTT, Toleransi umat beragama juga terlihat di Timika Papua.
Dilansir dari Kompas.com, pemuda Katolik, Hindu dan Buddha menjaga perayaan Idul Fitri.
Ketua FKUB Mimika Ignastius Adii mengatakan, ada 65 pemuda dan pemudi dari latar belakang agama Katolik, Protestan, Hindu dan Budha yang terlibat dalam mengamankan Shalat Ied di Timika.
"Totalnya 65 orang semua," kata Ignatius.
Menurut dia, toleransi antar umat beragama di Kabupaten Mimika selama ini terjalin sangat baik.
Sebab, komunikasi dan pembinaan kepada semua agama terus dilakukan FKUB.
Sebagai, contoh bila umat Kristiani sedang merayakan Ibadah Natal dan Paskah, remaja masjid juga ikut terlibat mengamankan gereja-gereja.
Begitupun bila agama lain sedang merayakan hari besarnya, keterlibatan agama lain dalam mengamankan juga dilakukan.
"Kami di Mimika memang toleransinya beragamanya sangat baik, dan saling menghargai," tuturnya.
Sementara itu, pelaksanaan shalat Id di Mimika dipusatkan di Lapangan Timika Indah, Kota Timika.
Adapun sebagai imam shalat Ustadz Burhan Kamil yang merupakan imam besar Masjid Al Akbar.
Sedangkan sebagai khatib Dr. Abdurahman Akkase. Abdurahman Akkase merupakan Ketua DAI Muda dari Kalimantan Timur.
Selain di Lapangan Timika Indah, shalat Id juga dilakukan di 69 masjid yang tersebar di Mimika.
Toleransi Beragama di Hari Raya Idul Fitri, Ribuan Umat Islam Shalat Id di Depan Gereja
Himpunan Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440H, Cocok Dibagikan di WhatsApp, IG, dan FB
Rujukan Toleransi
Tahukah Anda bahwa saat ini, Indonesia jadi rujukan soal toleransi?
Adalah pemerintah Australia melalui Duta Besarnya di Indonesia, Gary Francis Quinlan menyampaikan minat negaranya untuk belajar terhadap toleransi beragama di Indonesia.
Kepada media disela acara Dialog Lintas Agama Indonesia-Australia di Bandung, Jawa Barat Rabu (13/2/2019), Gary mengatakan, seperti halnya Indonesia, Australia adalah negara dengan masyarakat yang beragam.
"Kami (Australia, red) ingin belajar dari kalian (Indonesia, red) dan bagaimana bisa mengerti sesama masyarakat," ucap Gerry seperti dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima.
Toleransi yang berjalan baik di Indonesia, memang sempat diwarnai sejumlah kasus tindakan intoleran.
Meski demikian, rumusan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar negara, masih terjaga dan terus dipertahankan.
Pemerintah dengan tegas memastikan Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia dan tidak bisa digantikan.
Sebuah kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun bahwa Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki keberagaman baik dari etnis, suku, bahasa, agama, kepercayaan, budaya, tradisi, dan adat istiadat.
Sekalipun dipenuhi dengan keragaman, Indonesia bisa mempersatukan dan hal itu nampak pada semboyan negara yaitu Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda namun tetap satu jua.
Tak ayal kemajemukan, kebhinnekaan, dan keragaman termasuk agama, menjadi sesuatu yang tidak dapat ditolak keberadaannya di Indonesia.
Bahkan dapat juga dikatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan salah satu dari sekian negara di dunia yang memiliki tingkat heterogenitas tinggi.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan pidato, sering menyelipkan pesan yang bersifat imbauan sekaligus mengajak masyarakat untuk terus merawat dan menjaga persatuan, persaudaraan, dan kerukunan.
"Mari kita hormati suku, agama, adat, dan tradisi yang berbeda di sekitar kita. Karena, bangsa ini sudah ditakdirkan Allah SWT untuk memiliki keanekaragaman, dan kita semua adalah saudara sebangsa dan setanah air. Jangan sampai lupa," kata Jokowi pada sebuah kesempatan.
Nah terkait itu, dibutuhkan peran semua pihak untuk memiliki sikap hidup bertoleransi.
Ini karena toleransi secara aktif, dibutuhkan untuk menyokong stabilitas dan perdamaian untuk kesejahteraan masyarakat.
Salah satu wujud toleransi yang berjalan di Indonesia terkait agama, adalah peringatan hari raya dan perayaan keagamaan yang dijadikan hari libur nasional.
Keagamaan yang dimaksud adalah hari raya dan perayaan keagamaan enam agama yang diakui di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu.
Pada saat memberikan ucapan atas peringatan hari raya dan perayaan keagamaan, Presiden Jokowi biasanya juga mengajak umat yang memperingati untuk selalu menjaga persatuan di tengah kemajemukan dan kebegaraman Indonesia.
“Mari selalu jaga kerukunan di tengah keberagaman, apalagi menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pilpres. Kita ini satu bangsa jadi harus terus bersatu,” pungkas Jokowi.
(hen/tribun-medan.com/ kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/05062019danil07_salat_idul_fitri_medan-8.jpg)