Akibat Cerita yang Keliru, Klinik di Belanda Kebanjiran Permohonan Mengakhiri Hidup

Levenseindekliniek atau Klinik Akhir Kehidupan, yang berlokasi di Den Haag, mengaku telah menerima sedikitnya 25 permintaan dari luar negeri.

Akibat Cerita yang Keliru, Klinik di Belanda Kebanjiran Permohonan Mengakhiri Hidup
Youtube
ilustrasi eutanasia. 

TRIBUN-MEDAN.com, DEN HAAG - Sebuah klinik di Belanda, yang merupakan satu-satunya klinik eutanasia di negara itu, mengaku telah kebanjiran permintaan dari luar negeri untuk membantu mengakhiri hidup.

Levenseindekliniek atau Klinik Akhir Kehidupan, yang berlokasi di Den Haag, mengaku telah menerima sedikitnya 25 permintaan dari luar negeri untuk membantu eutanasia.

Lonjakan permohonan tersebut usai beredarnya kabar yang mengatakan jika klinik itu telah membantu Noa Pothoven, seorang remaja putri berusia 17 tahun untuk mati.

Akan tetapi kisah yang menjadi viral itu tidak sepenuhnya benar. Meski Pothoven yang sempat menghubungi klinik itu benar telah meninggal, namun kematiannya bukan melalui eutanasia.

Pothoven yang semasa kecil pernah mengalami pemerkosaan, meninggal pada 2 Mei lalu, setelah menolak untuk makan dan minum. Kabar kematiannya telah dikonfirmasi pihak keluarga maupun pemerintah Belanda.

Direktur Pengelola Levenseindekliniek, Steven Pleiter, mengatakan bahwa kliniknya tidak bertujuan mengundang turis ke Belanda untuk eutanasia.

"Hal itu sama sekali bukan menjadi tujuan kami maupun tujuan didirikannya Levenseindekliniek," ujar Pleiter kepada AFP.

"Seseorang tidak bisa datang ke Belanda hanya untuk mendapatkan bantuan eutanasia. Anda tidak bisa tiba di Belanda pada hari Senin dan mendapat eutanasia di hari Jumat," tambahnya.

Pleiter mengatakan, Levenseindekliniek tidak terlibat dalam kematian Pothoven. Namun, dia menolak mengomentari klaim Pothoven dalam sebuah wawancara di bulan Desember, bahwa dia telah mendatangi klinik dan mengajukan permohonan eutanasia, tetapi ditolak karena masih terlalu muda.

"Kami turut berbelasungkawa atas kematian Noa Pothoven, yang mengatakan bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi hidup lebih lama dan tidak bisa mendapatkan bantuan yang dia diinginkan untuk mengakhiri hidupnya," kata Pleiter.

Halaman
12
Editor: Liston Damanik
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved