Akibat Cerita yang Keliru, Klinik di Belanda Kebanjiran Permohonan Mengakhiri Hidup

Levenseindekliniek atau Klinik Akhir Kehidupan, yang berlokasi di Den Haag, mengaku telah menerima sedikitnya 25 permintaan dari luar negeri.

Akibat Cerita yang Keliru, Klinik di Belanda Kebanjiran Permohonan Mengakhiri Hidup
Youtube
ilustrasi eutanasia. 

"Noa memutuskan mengakhiri hidupnya dengan berhenti makan dan minum. Levenseindekliniek tidak terlibat dalam menyediakan eutanasia untuk Noa," lanjutnya.

"Tetapi itulah alasan yang mendorong kami ingin membantu orang sebanyak mungkin. Kami berusaha membantu orang-orang untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara yang baik," ujar Pleiter.

Belanda merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang telah melegalkan eutanasia, di mana secara hukum setiap penduduk berusia lebih dari 12 tahun berhak mengajukan permohonan untuk eutanasia, meski tetap harus memenuhi persyaratan yang ketat.

Juru bicara Levenseindekliniek, Elke Swart, mengatakan bahwa klinik itu sesekali menerima permohonan eutanasia dari luar negeri.

"Biasanya kami mendapat satu atau dua permohonan dari luar negeri dalam sepekan untuk eutanasia. Tetapi kemarin mencapai 25 permohonan," ujar Swart.

Klinik eutanasia Levenseindekliniek mulai dibuka pada 2012 dan menjadi satu-satunya klinik di Belanda yang menerima permintaan untuk membantu klien mengakhiri hidup.

Dikatakan dalam tujuh tahun terakhir klinik itu telah menerima antara 12.000 hingga 13.000 permintaan eutanasia, dengan sekitar 3.500 telah dikabulkan.

Namun klinik itu tidak pernah mengabulkan permintaan dari pemohon berusia di bawah 18 tahun. (Agni Vidya Perdana)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Karena Kisah Ini, Klinik di Belanda Kebanjiran Permohonan Eutanasia dari Luar Negeri."

Editor: Liston Damanik
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved