Dokter Ini Jadi Pecandu Berat Narkoba Akibat Kerja Tanpa Henti Hingga 48 Jam

Pria berusia 39 tahun, lahir di Seremban, mulai menggunakan narkoba sembilan tahun lalu, karena stres oleh pekerjaan.

Dokter Ini Jadi Pecandu Berat Narkoba Akibat Kerja Tanpa Henti Hingga 48 Jam
Pixabay
Ilustrasi 

TRIBUN-MEDAN.com - Kecanduan narkoba bisa terjadi pada siapa saja. Tidak hanya pada mereka yang hidup di jalanan atau putus sekolah, bahkan mereka berpendidikan tinggi dan pekerja profesional juga bisa terjerat dalam candu obat terlarang itu.

Seperti yang terjadi pada seorang dokter di Malaysia. Dia adalah dr Sasitharan Ayani, merupakan lulusan kedokteran dari Rusia. Dirinya saat ini bekerja sebagai tenaga medis di rumah sakit negeri di Johor Baru.

Pria berusia 39 tahun, lahir di Seremban, mulai menggunakan narkoba sembilan tahun lalu, karena stres oleh pekerjaan.

Saat itu dirinya masih berusia 30 tahun, dituntut untuk bekerja dalam shift yang panjang hingga 48 jam, tanpa istirahat yang layak.

Baca: Dokter Ini Dipecat Setelah Berkali-kali Serukan Pemerkosaan Pada Perempuan

Baca: 3.000 Ton Limbah Plastik Ilegal Milik Negara Maju Dikembalikan Malaysia

Baca: Resmi, Kecanduan Game Masuk Ketegori Gangguan Mental

Untuk menghilangkan rasa lelah dan ngantuk karena kurang istirahat, dr Sasitharan mulai mengonsumsi metamfetamin (sabu-sabu) untuk meningkatkan tingkat energinya, hingga mengalami kecanduan.

“Saat itu, saya stres. Saya diperkenalkan dengan metamfetamin dan itu yang saya butuhkan untuk jam kerja yang panjang. Saya hanya menginginkan energi, itu saja, ”katanya, menurut Malay Mail.

“Dalam benak saya, saya pikir saya akan terhindar dari kecanduan karena saya berpikir sebagai dokter, saya akan dapat mengendalikannya. Tetapi saya salah ketika obat-obatan menguasai saya dan membuat saya seorang pecandu keras. "

Dokter Sasitharan lalu menyadari bahwa dirinya tak dapat hidup normal lagi karena pengaruh obat-obatan itu, lalu berusaha memutuskan hubungan dengan narkoba dan memulai hidupnya lagi dari awal.

Dia lalu memeriksakan diri ke pusat rehabilitasi Rumah Pengasih, enam tahun yang lalu. Pada tahun 2017 dirinya keluar dari sana, karena ayahnya sakit.

Enam bulan kemudian, dia kambuh akibat depresi dan menerima hinaan dari kerabatnya.

“Dua bulan lalu, saya kembali ke sini (Rumah Pengasih) karena saya sadar bahwa saya membutuhkan bantuan. Saya masih menjalani perawatan dan observasi untuk memastikan saya tidak kambuh lagi,” tambahnya.

Kecanduan narkoba membuat dr. Sasitharan mudah tersulut emosi dan perubahan suasana hati yang tiba-tiba. Itu menyebabkan pernikahannya dibatalkan 20 hari sebelum pelaksanaan.

Menurut The Star, presiden Pengasih Ramli Abd Samad menjelaskan bahwa narkoba tidak lagi digunakan hanya untuk merasa senang, tetapi sekarang sering digunakan untuk meningkatkan energi dan kepercayaan diri seseorang.

“Sebelumnya, narkoba digunakan untuk hiburan, tetapi sekarang, banyak orang menggunakannya untuk tujuan kerja, seperti untuk meningkatkan kepercayaan diri saat memberikan presentasi dan sebagainya, ”katanya.

(cr12/tribun-medan.com)

Penulis: Sally Siahaan
Editor: Liston Damanik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved