Terpapar Abu Vulkanik, Petani Khawatir Kualitas dan Harga Tanaman akan Turun

Para petani yang lahan pertaniannya terkena dampak abu vulkanik tentunya sangat resah.

Terpapar Abu Vulkanik, Petani Khawatir Kualitas dan Harga Tanaman akan Turun
Tribun Medan/Muhammad Nasrul
Petani dari Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpangempat Renita bru Karo, mengaku khawatir tanamannya akan gagal panen akibat terpapar abu vulkanik dari Gunung Sinabung yang terjadi pada Rabu (7/5/2019) kemarin 

TRIBUN-MEDAN.com, SIMPANGEMPAT - Akibat dari erupsi Gunung Sinabung yang terjadi pada Minggu (9/6/2019) kemarin, menyebabkan beberapa wilayah terdampak abu vulkanik.

Selain menghujani rumah-rumah warga, abu vulkanik juga mendera lahan pertanian milik warga.

Berdasarkan informasi sebelumnya, ketika erupsi kemarin Sinabung memuntahkan abu vulkanik beserta awan panas dengan tinggi kolom sejauh 7.000 meter di atas puncak gunung.

Dengan kondisi ini, para petani yang lahan pertaniannya terkena dampak abu vulkanik tentunya sangat resah. Seorang petani Lismayani Sinaga, setelah erupsi kemarin menyebabkan tanaman miliknya diselimuti abu vulkanik. Wanita yang menanam kol ini mengaku, ketebalan abu di ladang miliknya sekitar setengah centimeter.

"Ginilah kondisinya, ketutup abu semua. Kalau sekarang sudah mending, tapi pas erupsi kemarin lebih tebal lagi abunya," ujar Lismayani, saat ditemui di ladang miliknya di persimpangan Desa Gamber, Simpangempat, Selasa (11/6/2019).

Akibat dari tebalnya abu yang menutupi tanamannya, dirinya mengaku khawatir kondisi tersebut akan merusak kualitas pada saat panen nanti. Terlebih, tanaman yang ditanamnya saat ini sudah akan memasuki masa panen.

"Ini bentar lagi sudah bisa panen, tapi kena abu gini itulah makanya enggak taulah ini. Kalau nanti rusak enggak mau berapa lagi ngasih harganya," katanya.

Lismayani mengaku, setelah dihujani abu sejak kemarin dirinya belum ada melakukan penyiraman di ladangnya. Dirinya menyebutkan, untuk tanaman kol memang sedikit tahan dari paparan abu vulkanik. Meskipun begitu, dirinya juga berharap segera datang hujan agar abu cepat hilang.

"Kalau sudah jadi gini enggaknya masalah, sudah agak tahan dia memang. Mau disirampun capek lah gini besarnya, makanya nunggu hujan aja biar langsung hilang abunya. Kalau disiramnya tanggung, makin rusak kolnya," ucapnya.

Meskipun tanaman kol sedikit tahan terhadap debu, namun dirinya tetap saja khawatir. Pasalnya, jika kualitas hasil panen menjadi rusak, maka akan berpengaruh terhadap harga jual. Dirinya mengaku, jika buah sudah rusak maka dikhawatirkan tidak akan bisa dijual ke pasar.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved