NEWS VIDEO: Kisah Napi Lapas Binjai Bisa Menafkahi Keluarga usai Dibina Menjahit Seragam Sekolah

Satu di antaranya program kursus menjahit pakaian yang sudah berjalan dan sukses dipasarkan ke masyarakat.

NEWS VIDEO: Kisah Napi Lapas Binjai Bisa Menafkahi Keluarga usai Dibina Menjahit Seragam Sekolah
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Tiga Warga Binaan Pemasyarakatan menjahit seragam sekolah dan seragam dinas demi mencari penghasilan dan menafkahi keluarga dari dalam Lapas, Senin (17/6/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Sejumlah narapidana di Lapas Binjai berhasil dibina dengan berbagai keahlian khusus.

Satu di antaranya program kursus menjahit pakaian yang sudah berjalan dan sukses dipasarkan ke masyarakat.

Hasil penelusuran Tribun Medan ketika berkesempatan menilik berbagai kegiatan pembinaan, tiga warga binaan terlihat tekun menjahit seragam sekolah untuk tingkat SD hingga SMA, dan seragam dinas. Hasil jahitan mereka terlihat rapi, sehingga hasilnya sudah bisa dipasarkan ke masyarakat.

Kalapas Binjai, Maju Amintas Siburian terbilang berhasil membina ribuan narapidana dengan pendekatan humanis. Sejumlah program pembinaan keprofesian difasilitasi Lapas Binjai, seperti kursus menjahit,melukis, membuat kerajinan tangan, pengolahan tempe dan bercocok tanam hidroponik.

"Dengan warga binaan kita tetap harus humanis, dengan begitu kita dan mereka bisa saling bekerja sama. Jadi seperti keluarga saya sendiri lah mereka itu," katanya, Senin (17/6/2019).

Napi berinisial WD (38) yang sedang menggoyang mesin jahitnya mengatakan bahwa dirinya diajari kursus menjahit di dalam Lapas Binjai. Menjalani masa hukuman 4 tahun 1 bulan, dia habiskan dengan menjahit dan sudah bisa mengirim nafkah untuk keluarganya meski dari dalan Lapas.

"Ya sykur lah dengan kegiatan menjahit ini sehari bisa menyiapkan 5 sampai 10 potong seragam sekolah. Dari dalam sini bisa dapat premi, kalau sudah banyak bisa mengasih untuk keluarga. Minimal sebulan bisa dapat Rp 300 dari premi," ungkapnya sambil didampingi dua pegawai Lapas Binjai, Maskoni dan Natalis.

Senada MZ alias Ajo yang juga terjerak perkara narkotika. Dihukum lima tahun, ia memilih menjahit agar dapat menafkahi istri dan anak-anaknya bisa makan dan bersekolah.

"Ini jadi pengalaman, gak nyusahi keluarga. Waktu masa tahanan juga berjalan gak terasa. Pendapatan gak bisa dipastikan, tapi bisa lah buat hidup. Anak saya empat dititipkan sama orangtua semuanya. Harapannya alat mesin jahitnya bisa canggih ya lebih baik lagi," ujar Ajo warga Medan.

Selain WD dan MZ, DJK (34) mengungkapkan kisahnya yang enggan berpangku tangan dan menyusahkan keluarga. DJK yang divonis 4 tahun masa tahanan ini mengatakan, bahwa dengan menjahit bisa sekaligus untuk menghilangkan rasa bosan dengan kegiatan produktif.

"Saya orang Binjai bang, sudah ada tiga anak. Menjahit ini saya jalani untuk mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat, jadi kan gak terasa kali menjalani masa tahanan empat tahun," ungkapnya.

Kasi Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Binjai, Agus Santoso mengatakan, hasil jahitan seragam sekolah dan seragam dinas karya para napi sudah dipasarkan dan diminati masyarakat. Pihaknya bekerja sama dengan pihak ketiga konveksi yang mengorder kemeja, celana panjang atau pendek, dan seragam dinas kerja.

"Sudah dipasarkan itu hasil karya mereka. Kita kerja sama dengan pihah ketiga untuk menyalurkan berupa pakaian seragam sekolah mulai SD, SMP, SMA dan seragam dinas. Bisa nanti dipesan pegawai atau saudaranya juga yang mau," katanya.

"Harapannya mereka bisa semakin terampil dan berkembang jadi contoh bagi lainnya, mereka bisa dapat penghasilan dalam bentuk premi dari kerja kerasnya. Jadi mereka sudah mulai dapat order meski tergolong masih baru. Kita juga akan siapkan pemasaran dengan media online dan sosial media, agar yang order tidak perlu mengukur orang membeli," pungkas Agus Santoso.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved