Tepat 1 Tahun Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun, Kapten Edy Ungkap Sulitnya Taklukkan Danau Toba

Kapten Laut (P) Edy Tirtayasa (47) yang kala itu menjabat sebagai Dantim SAR Sat Kopaska Koarmada I, punya kenangan bagaimana sulitnya proses evakuasi

Tepat 1 Tahun Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun, Kapten Edy Ungkap Sulitnya Taklukkan Danau Toba
Tribun Medan / M Andimaz Kahfi
Tepat 1 Tahun Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun, Kapten Edy Ungkap Sulitnya Taklukkan Danau Toba. Mayor Laut (P) Edy Tirtayasa. 

Tepat 1 Tahun Tragedi Tenggelamnya KM Sinar Bangun, Kapten Edy Ungkap Sulitnya Taklukkan Danau Toba

TRIBUN-MEDAN.com- Hari ini genap setahun tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba pada (18/6/2018) silam. Kapal yang membawa 188 penumpang itu karam, mengakibatkan 3 orang tewas dan 164 hilang.

Korban yang hilang diduga masih berada di dasar danau, karena sulit dievakuasi. Sosok Kapten Laut (P) Edy Tirtayasa (47) yang kala itu menjabat sebagai Dantim SAR Sat Kopaska Koarmada I, punya kenangan bagaimana sulitnya proses evakuasi.

Edy yang memiliki keahlian selam tempur, membawa 15 personel Kopaska untuk evakuasi. Sekarang jabatannya sudah naik menjadi Mayor Laut (P) Edy Tirtayasa dan sudah menjabat sebagai Komandan Kompi Markas (Dankima) Sat Kopaska Koarmada I.

Edy coba menceritakan kembali kisah evakuasi KM Sinar Bangun. Untuk menolong korban atau mencari sesuatu, ada 4 faktor yang harus diperhitungkan. Di antaranya lokasi, cuaca, peralatan dan keselamatan diri.

"Masalah lokasi, berbeda ketika menyelamatkan di laut dan di danau. Danau terbagi dua, yaitu danau buatan dan danau alam. Danau alam salah satunya terbentuk dari Vulkanologi," kata Mayor Laut (P) Edy Tirtayasa, Selasa (18/6/2019).

Baca: SESAAT Lagi Tayang, Ini Link Live Streaming Perempatfinal Timnas Futsal U-20 Indonesia vs Vietnam

Baca: Driver Ojek Online Lempar Putranya dari Lantai 5 karena Diceramahi Orang Tua Tak Mampu Biaya Anak

Baca: Viral Surat Keterangan Tak Mampu, Warga Gunungkidul Teken Pernyataan Siap Dikutuk sesuai Agama

"Ketika saya menyelam di Danau Toba, saya menemukan karakter yang hampir sama dengan danau Anak Laut Sabang. Biasanya Danau Vulkanologi itu rata-rata dalamnya dan dinginnya minta ampun," sambungnya.

Edy mencontohkan seperti Danau Anak Laut di Sabang, memiliki tumbuhan air yang sangat panjang-panjang sehingga ketika menyelam efeknya seolah-olah di belit dan di tarik.

"Waktu saya menyelam di Danau Toba, memang saya tidak bisa menyelam sampai dasar. Karena dasarnya tidak diketahui pasti. Manusia hanya bisa menyelam sedalam 40 meter lebih. Karena manusia kapasitas 42-50 meter itu sudah sulit. Saya hanya sanggup sampai 42 meter sebatas normal dan saya hanya sanggup hanya kurang dari 6 menit plus dekompresi stop," ujarnya.

Baca: Grab Denda Pelanggan yang Batalkan Order, Ini Tiga Syarat Cancel Order yang Bebas Denda!

Baca: RI Kalah Saing dengan Vietnam Tarik Investor, Ini Penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani

Baca: RI Kalah Saing dengan Vietnam Tarik Investor, Ini Penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani

Keluarga korban menaburkan bunga di Monumen KM Sinar Bangun di Pelabauhan Tigaras Kabupaten Simalungun, Kamis (2/5/2019).
Keluarga korban menaburkan bunga di Monumen KM Sinar Bangun di Pelabauhan Tigaras Kabupaten Simalungun, Kamis (2/5/2019). (Tribun Medan/Tommy Simatupang)

Edy menambahkan kenapa harus Dekompresi Stop, karena di Danau Toba tidak ada Chamber Portable yaitu alat untuk mengatasi setiap penyelam yang terkena dekompresi.

Halaman
123
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved