Isak Tangis Bercampur Bahagia Antar Kepergian Pengungsi Rohingya di Medan ke Amerika

Abdullah dan lima pengungsi Rohingya lainnya akan mengadu nasib ke Amerika Serikat sebab di Indonesia mereka tidak memiliki izin kerja

Isak Tangis Bercampur Bahagia Antar Kepergian Pengungsi Rohingya di Medan ke Amerika
TRIBUN MEDAN/NANDA RIZKA NASUTION
Abdullah (baju biru) berusaha menenangkan sekaligus pamit dengan ibunya yang menyembunyikan wajahnya sambil menangis, di sisi lain Hasanali, rekan Abdullah tersenyum bahagia menunggu jemputan imigrasi, Hotel Berspati di Jalan Jamin Ginting, Simpang Selayang, Kec. Medan Tuntungan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Ibunda Abdullah tak kuasa menahan tangis saat mobil imigrasi mengangkat barang-barang Abdullah ke mobil, menyembunyikan wajahnya dibalik tiang, Ia bahkan tak sanggup menatap Abdullah yang ingin berpamit pergi ke Amerika untuk mencari pekerjaan.

Hari ini Abdullah dan lima pengungsi Rohingya lainnya akan mengadu nasib ke Amerika Serikat sebab di Indonesia mereka tidak memiliki izin kerja, sementara kebutuhan keluarga semakin mendesak.

Abdullah juga menyempatkan diri pamit kepada rekan lainnya yang masih menunggu waktu dapat pergi ke Amerika, tak henti Airmatanya mengalir saat berpelukan bersama rekan-rekan seperjuangan selama 2 tahun di pengungsian Medan.

Ia juga bercerita awal mula Ia sampai di Indonesia melalui jalur laut dan sempat terombang ambing beberapa bulan diatas kapal, kekurangan makan dan minum, dan pertama kali menginjak Indonesia Ia menetap selama setahun di aceh dan pindah ke Medan

Masih berumur 22 tahun, Abdullah mengaku siap bertarung di Amerika Serikat, kepada tribun medan Ia berkata sangat bersyukur Amerika memberikan kesempatan baginya untuk bekerja disana.

"Saya punya saudara yang masih kecil, dan saya paling tua, saat sampai disana saya siap bekerja apa saja," katanya

Meski demikian, Abdullah mengatakan Ia memiliki passhion di dunia restoran dan perhotelan, Ia berharap saat sampai di Amerika nantinya Ia dapat bekerja di restoran, dan mendapatkan ilmu yang banyak dari sana.

"Sementara waktu saya akan tinggal dengan teman saya yang sudah bekerja setahun disana, dan Insyaallah saya akan melakukan yang terbaik untuk keluarga dan adik-adik saya," katanya.

Berbeda dengan Abdullah yang kepergiannya dihiasi isak tangis, pancaran kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Hasanali (18), Ia terlihat sangat semangat mengangkat koper ke mobil jemputan. Hasan sendiri sudah 4 tahun mengungsi di Indonesia dan memimpikan sejak lama bisa berangkat ke Amerika untuk memperbaiki hidup dan menjadi tulang punggung keluarga.

"Saya ingin belajar ke Amerika, setelah belajar, saya ingin bekerja dengan baik disana, saya juga ingin menyempurnakan bahasa Inggris saya, karena masih belum lancar," katanya.

Ia berencana setelah selesai belajar Ia berharap dapat bekerja di dunia Enginering ataupun ofice karena itu adalah passionnya. Layaknya Abdullah, Hasanali mengaku untuk sementara waktu Ia akan tinggal dengan temannya di Chicago Amerika.

Meski demikian Ia tidak berencana menetap di Amerika, dan apabila negara asalnya sudah aman ditempati, Ia akan kembali ke kampung halamannya karena semua keluarganya masih disana.

"Kalau negara saya sudah aman, saya akan kembali ke sana karena keluarga menunggu disana," tuturnya.

Saat ditanya Tribun Medan, mereka berkata akan tetap di Indonesia apabila di izinkan bekerja, namun karena tidak ada izin bekerja dan kebutuhan keluarga mendesak mereka harus mengambil jalan terbaik bagi keluarga.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved