Kadis Pariwisata Sebut Taman Mejuah-Juah Masih Berstatus Objek Wisata, Dicanangkan jadi Taman Kota

Bagi masyarakat maupun pengunjung yang ingin masuk ke lokasi tersebut harus membayar uang retrebusi.

Kadis Pariwisata Sebut Taman Mejuah-Juah Masih Berstatus Objek Wisata, Dicanangkan jadi Taman Kota
TRIBUN MEDAN/M NASRUL
Pengunjung bermain dan menikmati fasilitas yang ada di Taman Mejuah-Juah, di Jalan Gundaling, Berastagi, Karo, Jumat (21/6/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BERASTAGI - Setiap wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Karo, terutama Berastagi biasanya sering singgah ke Pasar Buah. Namun, ternyata di lokasi tersebut tak hanya melulu tentang buah, naik kuda, dan makan jagung.

Karena, di seputar Pasar Buah terdapat satu tempat yang biasanya banyak dikunjungi warga sekitar, yaitu Taman Mejuah-Juah.

Namun, hingga saat ini taman tersebut masih berstatus objek wisata. Sehingga, bagi masyarakat maupun pengunjung yang ingin masuk ke lokasi tersebut harus membayar uang retrebusi. Adapun uang yang dikutip, untuk dewasa sebesar empat ribu rupiah, dan dua ribu rupiah bagi pengunjung anak-anak.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Karo Ir Mulia Barus, mengaku memang hingga saat ini lokasi tersebut masih termasuk ke dalam objek wisata. Sehingga, pihaknya memberlakukan retrebusi bagi masyarakat yang masuk ke taman tersebut.

Mulia mengungkapkan, hal tersebut sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) nomor 5 tahun 2012 tentang destinasi yang dipungut retrebusi.

"Hingga saat ini memang untuk wisata, makanya diberlakukan distribusi," ujar Mulia, saat ditemui di seputar Taman Mejuah-Juah, Jumat (21/6/2019).

Mulia mengungkapkan, pihaknya memang beberapa waktu lalu telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Dirinya menyebutkan, kemungkinan lokasi tersebut nantinya akan dijadikan taman kota. Namun, tetap mengacu kepada apakah Perda yang telah ada akan diubah atau tidak.

"Nanti kita tinjau ulang, sesuai dengan harapan dari pemerintah kabupaten khususnya pak bupati supaya ke dalam digratiskan. Tapi kita lihat nanti bagaimana Perdanya," ucapnya.

Dirinya menyebutkan, jika nantinya lokasi tersebut diubah menjadi taman kota, maka pengelolaannya akan diserahkan kepada pihak pertamanan.

"Mungkin ke depannya setelah ada perubahan Perda akan digratiskan, dan pengelolaannya kita serahkan ke pertamanan. Masalah kebersihan juga kita serahkan sama pihak kebersihan Dinas Lingkungan Hidup," katanya.

Dirinya mengungkapkan, memang tidak setiap hari tempat tersebut dikutip retrebusi. Salah satunya jika memang ada kegiatan berskala besar, tempat tersebut dapat dimasuki tanpa dipungut biaya. Selain itu, pintu utama yang biasa tertutup, kan dibuka selama berlangsungnya acara.

"Karena memang masih objek wisata makanya masuknya dari sini (retrebusi), kalau pas ada acara gerbang utama itu dibuka," katanya.

Saat ditanya perihal lokasi terbaru lebih pas dijadikan objek wisata atau taman kota, dirinya menyebutkan pasti ada segi positif dan negatifnya. Salah satu yang paling disorotinya, adalah perihal pemeliharaan fasilitas dan faktor kebersihan.

"Namanya fasilitas umum tentunya pemeliharaannya harus lebih diperhatikan. Mudah-mudahan nanti kalau memang bisa jadi taman kota, disediakan juga petugas kebersihan," pungkasnya.

(cr4/tribun-medan.com)

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved