Manohara: Sirkus Lumba-lumba Bukan Edukasi, Tapi Eksploitasi Satwa
Manohara mengatakan, aksi sirkus lumba-lumba bukanlah edukasi melainkan eksploitasi terhadap mamalia laut ini.
Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN-MEDAN.com-Sejumlah pemuda yang berasal dari berbagai komunitas menolak aksi Sirkus lumba-lumba yang diselenggarakan di Komplek Perumahan Medan Metropolitan Trade Center (MMTC), Jalan Willem Iskandar, Deliserdang, Sabtu (22/6/2019) Sore.
Aksi yang berlangsung sore tersebut mendapat perhatian warga, khususnya saat selebritas Manohara Odelia Pinot berdebat dengan panitia penyelenggara sirkus.
Manohara dan temannya Anita Panggabean dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) meminta keabsahan penyelenggaraan sirkus lumba-lumba.
Manohara mengatakan, aksi sirkus lumba-lumba bukanlah edukasi melainkan eksploitasi terhadap mamalia laut ini.
"Betapa menderitanya mereka (lumba-lumba) di sini. Di laut mereka bisa hidup sampai 40 tahun, sementara di sini mereka bisa hidup hanya 4 tahun. Di laut mereka bisa makan sebanyak 20 Kg ikan per hari. Sementara di sini, paling dikasih potongan ikan busuk," ujar Manohara di lokasi sirkus.
Manohara pun menanyakan izin yang dimiliki pihak penyelenggara. Namun Manohara menolak saat diajak masuk ke ruangan kantor panitia. Iameminta panitia menjelaskannya di luar.
"Mana surat-surat (Izin) yang dimiliki sirkus ini, Pak?" tanyanya yang kemudian dibalas oleh Manajer Operasional Sirkus Tommy Alfredo dengan menunjukkan sebuah map merah.
"Kita sudah pernah mendengar adanya dinosaurus, tapi mereka sudah punah. Kan kita hanya mendengarnya saja. Kita enggak mau lumba-lumba ini menjadi hewan yang sama," sambung akrtis kelahiran 28 Februari 1992 itu.
Manohara mengatakan, pihak panitia penyelenggara seharusnya menunjukkan izin yang mereka miliki dan menampilkannya di sisi wahana yang dapat dilihat publik, jika benar izin dari berbagai pihak telah dikantongi.
Anita dari Jakarta Animal Aid Network mengatakan aksi yang mereka lakukan telah memiliki izin dari pihak kepolisian. Aksi yang mereka lakukan, imbuhnya dikarenakan status lumba-lumba adalah satwa yang dilindungi.
"Kami sudah mengantongi izin dari polisi. Kami mau menanyakan apakah sirkus ini mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)," ujar Anita.
Lantaran perdebatan tersebut menemui jalan buntu, Manohara, Anita dan anggota Komunitas Peduli Satwa langsung turun ke lapangan. Tak lupa ia pun membagi-bagikan poster penolakan kepada para pengunjung.
Saat kembali beraksi di jalanan, Manohara dan teman-temannya mengatakan aksi yang ia lakukan bukan yang pertama kali dilakukan. Ia juga mempertegas bahwa dirinya turun sendiri tanpa diminta.
"Saya turun sendiri. Tanpa diminta," katanya.
"Jadi apa yang kami lakukan di sini mudah-mudahan tidak sia-sia. Poster yang saya berikan mendapat apresiasi oleh masyarakat. Mudah mudahan dari sana menyebar pesan kita ke saudara-saudara yang lainnya," tambah Manohara.
Panitia Sirkus Klaim Miliki Izin
Manajer Operasional Sirkus Lumba-Lumba Tommy Alfredo mengatakan pihaknya memiliki semua izin untuk menggelar sirkus di Komplek MMTC, Pancing.
"Loh kami memiliki izin. Apalagi coba? Kami miliki izin semua loh jadi jangan menuduh-nuduh, enggak enak dipandang publik, statement itu hati-hati enggak enak dikonsumsi publik. Publik jadi mempersepsikan entah apa-apa nanti," ujarnya.
Alfredo mengatakan lumba-lumba yang mereka miliki untuk pertunjukkan ditangkap secara legal dirawat dan diberi gizi yang sesuai dengan kebutuhan.
"Kami memiliki dokter kok! Kami rawat, jadi enggak benar apa yang dikatakan tersebut," ujar Tomy.
(cr15/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/manohara_tolak_sirkus_lumba-lumba_2.jpg)