Bos PT Kiat Unggul Mengaku Salah, Janji akan Beri Santunan Buat Keluarga Korban

Indramawan mengakui kesalahannya dan menyesalkan kejadian yang menewaskan 30 orang itu.

Bos PT Kiat Unggul Mengaku Salah, Janji akan Beri Santunan Buat Keluarga Korban
Facebook
Para pekerja di pabrik mancis saat sebelum peristiwa kebakaran. 

TRIBUN-MEDAN.com - Direktur Utama PT Kiat Unggul, Indramawan yang telah ditetapkan sebagai tersangka pada kasus terbakarnya pabrik korek api di Jalan T Amir Hamzah Dusun IV, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Langkat, berjanji akan memberikan santunan kepada keluarga korban.

Indramawan mengakui kesalahannya dan menyesalkan kejadian yang menewaskan 30 orang itu.  

"Saya jarang di lokasi, Saya di Jakarta. Ini kebijakan direktur yang lalu, saya melanjutkan sejak 2014. Izin (usaha rumahan) belum pernah melapor," katanya.

Diakuinya selama ini kurang jelas mengetahui sistem pabrik modus rumahan untuk menekan biaya produksi dan hindari pajak dengan modus rumahan. Katanya, dia menyesal dan akan beri santunan kepada 30 korban.

Baca: Diduga Kecolongan, Camat tak Tahu Ada Dua Pabrik Mancis Rumahan Ilegal Sejak 2011

"Saya nyesal, pasti nyesal. Akan kami cari dan daftari penyelesaian yang bagus lah. Karyawan yang meninggal kami cari solusi santunan yang baik. Ke depan, kami wajib perbaikan," katanya.

Kapolres Binjai AKBP Nugroho mengungkapkan PT Kiat Unggul mengoperasikan tiga pabrik rumahan untuk perakitan (memasang kepala, batu dan geretan mancis) menjadi anak perusahaan. Yakni di Desa Sambirejo, Desa Perdamaian dan Desa Banyumas Kabupaten Langkat, dan perusahan induk PT Kiat Unggul, Aligas Jaya di Diski Jalan Medan-Binjai Km 15,7 Sunggal, Deliserdang. Semuanya telah dipasangi police line.

"Modus mereka pakai pabrik rumahan, tujuan yang pertama menghindari pajak, kedua menghindari jaminan sosial ketenagakerjaan, ketiga hindari perizinan usaha, keempat agar bisa memberikan upah murah di bawah UMR," jelas Nugie bisa Kapolres Binjai ini disapa masyarakat.

Informasi dihimpun Tribun Medan dari beberapa pekerja, diketahui tenaga lepas pabrik mancis rumahan ini hanya diupah Rp 1.200 per piks berisi 50 mancis, merakit kepala mancis, batu mancis, geretan mancis. Mereka mengerjakan secara borongan jika dapat order dari perusahan induk yang ada di Diski, Sunggal.

"Kerjanya ya merakit kepala mancis, batu mancis, sama geretannya itu. Gasnya sudah dari pabrik besar. Dulu satu pick Rp 1.000 dibayar, sekarang Rp 1.200 per pics isinya 50 mancis. Kalau ada borongan ya kerja," kata Ani.

Ketiga tersangka dikenakan Pasal berlapis. Manajer pabrik, Burhan dikenakan Pasal 359 KHUP (kelalaian mengaakibatkan matinya orang lain), lalu Pasal 188 KUHP (kelalaian yang menyebabkan kebakaran yang menyebabkan matinya orang lain), UU No 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, UU Perlindungan Anak Pasal 76 H, dan 76 I Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU No 23 tahun 2002.

Supervisi pabrik, Lismawarni disangka melanggar 359 KHUP (kelalaian mengakibatkan matinya orang lain), lalu Pasal 188 KUHP (kelalaian yang menyebabkan kebakaran yang menyebabkan matinya orang lain), Pasal 74 Huruf D dan Pasal 183 UU tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Direktur Utama PT Kiat Unggul, Indramawan disangka melanggar 359 KHUP (kelalaian mengaakibatkan matinya orang lain), lalu Pasal 188 KUHP (kelalaian yang menyebabkan kebakaran yang menyebabkan matinya orang lain), Pasal 61, Pasal 62 Nomor 26 Tahun 2017 tentang penataan ruang, Pasal 109 UU nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Perlindungan Anak Pasal 76 H, dan 76 I Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU No 23 tahun 2002, Pasal 90 (1), 185 Ayat 1 UU Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. (dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved