Sehari PT Kiat Unggul Raup Omzet Rp 80 Juta, Pekerja Lepas Cuma Diupah Rp 1.200 per Pics

per hari pihaknya bisa mengasilkan 80.000 unit korek api gas (mancis) merk TOKE dari tiga home industri di Langkat.

Sehari  PT Kiat Unggul Raup Omzet Rp 80 Juta, Pekerja Lepas Cuma Diupah Rp 1.200 per Pics
Tribun Medan/Dedy Kurniawan
Bos pabrik korek api gas (mancis), Indramawan selaku Direktur Utama PT Kiat Unggul operasi perakitan mancis berbahan kimia yang mudah meledak sebagai kerajinan tangan di Mapolres Binjai, Senin (24/6/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - PT Kiat Unggul yang bergerak di bidang produksi korek api gas nekad mengoperasikan anak perusahaan modus rumahan tanpa izin resmi. Hal ini diduga untuk meningkatkan jumlah produksi, menghindari pajak, menekan angka biaya produksi, menghindari pemberian jaminan ketenagakerjaan kepada buruh.

Terkait omzet, Dirut PT Kiat Unggul, Indramawan mengatakan, per hari pihaknya bisa mengasilkan 80.000 unit korek api gas (mancis) merk TOKE dari tiga home industri di Langkat. Dan, per korek api gas dipasarkan dengan harga jual Rp 1.000.

"Orderan per hari cuma 80 ribu mancis. Ini saya jalani baru lima tahun," katanya.

Kapolres Binjai AKBP Nugroho Tri Nuryanto, menjelaskan bahwa PT Kiat Unggul sengaja mengambil kebijakan modus pabrik rumahan untuk hindari pajak, tekan biaya produksi, dan hindari pemberian jaminan sosial ketenagakerjaan kepada modus buruh lepas.

"Pabrik induknya ada izinnya, untuk izin dan merk TOKE masih kita selidiki, unitnya lebih tipis. Keterangan manajer Burhan mereka produksi 80 ribu mancis, dipasarkan di Sumut dan luar Sumut seperti Aceh dan Jambi," ujarnya.

"Korek api gas ini dijual mereka Rp. 1.000, jadi sehari 1.000 dikali 80 ribu sama dengan Rp 80 juta, sebulan mereka raup omzet Rp 2,4 Miliar," ungkap Kapolres mantan Kaden Brimob Polda Sumut ini.

Informasi dihimpun Tribun Medan dari beberapa pekerja, diketahui tenaga lepas pabrik mancis rumahan ini hanya diupah Rp 1.200 per piks berisi 50 mancis, merakit kepala mancis, batu mancis, geretan mancis. Mereka mengerjakan secara borongan jika dapat order dari perusahan induk yang ada di Diski, Sunggal.

"Kerjanya ya merakit kepala mancis, batu mancis, sama geretannya itu. Gasnya sudah dari pabrik besar. Dulu satu pick Rp 1.000 dibayar, sekarang Rp 1.200 per pics isinya 50 mancis. Kalau ada borongan ya kerja," kata Ani.

Dengan penghasilan ditaksir Rp 2,4 M sebulan, sangat kontradiktif dengan pengakuan Supervisi Pabrik, Lismawarni. Perempuan berjilbab Ini mengaku belum dapat izin operasi karena terkendali finansial untuk mengurus izin ke pihak berwajib.

"Ini kan perusahaan induknya di Deliserdang, pernah mau urus, karena kami di Langkat disuruh urus pindah domisili. Dan kami masih terkendali finansial. Kalau perusahaan besarnnya ada izinnya setahu saya," ujarnya.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved