Kisah Si Tapak Merah, Menyambung Hidup dari Hasil Hutan

Dusun 1 Bongkaras sudah sejak lama diidentikkan sebagai sarang si Tapak Merah (petani gambir) di Kecamatan Silima Pungga-Pungga.

Kisah Si Tapak Merah, Menyambung Hidup dari Hasil Hutan
Dok. Goklas Wisely Sihotang
Gambir yang sudah selesai diolah dan siap untuk dipasarkan. 

HARI Selasa, 7 Mei 2019, saya mengunjungi Desa Bongkaras, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara. Di desa ini, ada kawasan hutan yang hasil hutannya dimanfaatkan oleh warga setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Satu diantaranya adalah Rosniarti br. Cibro (45). Bagi Rosniarti, hutan adalah sumber segala-galanya. Tanpa hutan mereka tidak hidup. Penghasilan mereka hanya dari hutan. Hutan sudah menjadi teman dalam menjalani kehidupan serta pelindung dan rumah. Kalau tidak ada hutan, entah dengan apa mereka hidup.

Sudah 17 tahun lamanya, Rosniarti menggantungkan hidupnya dari hutan. Di umur yang sudah tidak muda, Ia tetap memiliki tenaga yang cukup untuk pulang pergi dari hutan. Ia menikah dengan Ambri Sagala (55 Tahun) tahun 1996 dan sejak tahun 2002 sudah tinggal di Desa Bongkaras. Desa ini terdiri dari dua dusun. Dusun 1 dihuni mayoritas pemeluk Muslim dan Dusun 2 mayoritas Nasrani. Ambri tinggal di Dusun 1. Dusun 1 Bongkaras sudah sejak lama diidentikkan sebagai sarang si Tapak Merah (petani gambir) di Kecamatan Silima Pungga-Pungga.

Ambri bahkan menuturkan gambir dari Kabupaten Dairi banyak bersumber dari dusun tersebut. Ambri ialah satu dari puluhan Tapak Merah yang menetap di sana. Mayoritas Dusun 1 memang sejak dahulu sudah mengelola gambir dan menjadikannya sebagai satu-satunya penopang ekonomi keluarga.

Akhir tahun 2018 silam, desa ini baru saja terkena musibah banjir bandang dan tanah longsor. Peristiwa itu bahkan menewaskan tuju warga Silima Pungga-Pungga. Dampaknya, beberapa lahan gambir warga terseret banjir, terkena longsor, tertimbun, hingga tidak lagi dapat dikelola. Aktivitas persawahan yang dulunya aktif juga kini telah pasif. Lahan sawah seketika berubah menjadi tempat serpihan pohon yang tumbang dari hutan. Bahkan saat itu air menjadi hal yang sulit untuk didapatkan hingga satu bulan lamanya. Musibah itu begitu menyimpan kerugian besar bagi petani gambir. Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Ambri.

Letak lahan gambir Ambri berada di sekitar hutan. Ambri menuturkan, hampir setengah lahan gambir mereka terkena longsor. Tidak hanya kerugian secara ekonomi, peristiwa itu juga menyimpan kecemasan kala sepasang suami istri tersebut mengelola gambir di dalam hutan. Hujan yang semula dianggap berkat, kini menjadi semacam momok yang menakutkan. Oleh karena itu, memprediksi cuaca selalu menjadi aktivitas awal sebelum melangkah ke hutan. Jika terlihat mendung maka niat untuk mengambil gambir akan terhenti.

Lahan Ambri cukup jauh dari rumahnya. Membutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk sampai ke pondok gambirnya di hutan. Sekitar 20 menit mengendarai sepeda motor dengan melewati dua sungai dan jalan menanjak yang berbatu.

Sewaktu hujan, jalan akan menjadi licin sehingga mengharuskan Rosniarti berjalan kaki, sedangkan Ambri menerobos jalan dengan mengendarai sepeda motor. Sesampainya di ujung jalan, tepat di tepi sungai bekas aliran banjir bandang silam, mereka mulai berjalan kaki. Sekitar 30 menit mendaki dengan kemiringan kira-kira 60 derajat, sampailah mereka di pondok Gambir.

Rosniarti bersama Ambri biasanya berangkat sekitar pukul 07.00 Wib, usai mempersiapkan bekal untuk di hutan. Ia menenteng satu ember yang berfungsi sebagai wadah gambir kering. Sedangkan peralatan lainnya sudah tersedia di pondok, seperti alat pemeras, gunting, pisau, dandang, kayu bakar, tempat mengeringkan gambir, ember tempat menyejukkan getah Gambir, goni, dan lain-lain. “Bila cuaca cerah kami pulang sekitar jam 15.00 – 16.00 Wib,” kata Rosniarti. Jikalau siang terlihat agak mendung, mereka akan pulang sekitar pukul 13.00 Wib.

“Nanti berjalanlah ke hutan Bukit Sikalombun. Di situ lah pondok kami,” sebutnya.

Halaman
1234
Editor: Liston Damanik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved