Breaking News:

Panitera 'Halangi' Jaksa Denny Tuntut 12 Tahun Guru Agama yang Diduga Cabuli Siswi

Panitera PN Tarutung Samarhata Siburian tidak memberi akta banding sebagai kelengkapan berkas untuk menuntut pelaku cabul.

Penulis: Arjuna Bakkara |
Shutterstock
Foto ilustrasi 

"Kemudian SMN memegang kemaluan murid tersebut," katanya.
 

Memang, katanya, sebenarnya ada tujuh korban dan satu korban sudah berjalan proses hukumnya dan sudah P22.
 

"Jadi untuk satu korban sudah berjalan kasusnya. Jadi ini kasus baru.
 

Makanya kami laporkan sekarang," katanya.
 

Maka dari itu, Johanes berharap kasus ini cepat diselesaikan pihak Polda Sumut dan semoga Aris Merdeka menilik kasus ini.
 

Sementara itu, Kasubbit Penmas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan mengatakan ini kasus lama dan penyidikan sudah lengkap.
 

Sebelumnya Komnas Perlindungan Anak, mengecam keras aksi SMN. Hal tersebut disampaikan, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, sebagaimana yang dimaksud pasal 76E Junto Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 mengenai perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlidungan Anak.
 

SMN (44) guru agama di SD Negeri di Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara Terduga pelaku kejahatan seksual terhadap 11 muridnya dapat diancam pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun," ujarnya, Minggu (12/5/2019).
 

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, merespon pengaduan keluarga korban yang diterima bagian pengaduan Komnas Perlindungan Anak pada Jumat (10/5/2019) lalu.
 

"Namun sangat disayangkan, dan patut dipertanyakan mengapa setelah Jaksa menyatakan berkas yang disampaikan penyidik sudah lengkap (P21), tetapi pihak penyidik tidak menyerahkan terduga pelaku secara fisik kepada Kejaksaan. Bahkan terduga pelaku SMN bebas mengajar di tempat puluhan korban mengenyam pendidikan," ungkapnya.
 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved