Edy Ikhsan Sebut Seni dan Kebudayaan Kota Medan Seperti Lapangan Becek

Para pembicara maupun audiens sepakat bahwa seni dan budaya di kota Medan mengalami degradasi kualitas dan kuantitas.

Edy Ikhsan Sebut Seni dan Kebudayaan Kota Medan Seperti Lapangan Becek
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI br TARIGAN
Dua Pembicara Diskusi Medan dan Masa Depan Seni Budaya, Dr. Ok. Edy Ikhsan, SH (kanan) dan Dr. immanuel Prasetya Ginting (tengah) di Sanggar Tari, Taman Budaya Sumatera Utara Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 33 Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Dengan rasa semangat membangun seni budaya di Kota Medan Puluhan pelaku seni duduk melingkar, membahas permasalahan hingga masa depan Seni Budaya di Medan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Sanggar Tari, Taman Budaya Sumatera Utara Jalan PerIntis Kemerdekaan Nomor 33 Medan ini mengadirkan dua pembicara, yakni Dr. Ok. Edy Ikhsan, SH dan Dr. immanuel Prasetya Gintings

Dengan mengusung tema Medan dan Masa Depan Seni budaya, para pembicara maupun audiens sepakat bahwa seni dan budaya di kota Medan mengalami degradasi kualitas dan kuantitas, seorang peserta diskusi, Agus Susilo mengatakan permasalah seni dan budaya di kota Medan sangat kompleks dan melibatkan banyak aspek, baik itu pemerintah, pelaku seni, fasilitas hingga Media.

Diskusi yang dimulai sejak pukul 20.00 WIB tersebut semakin memanas saat seorang peserta diskusi Idris Pasaribu mengatakan secara gamblang bahwa selain AS Rangkuti tidak ada walikota lain yang peduli pada kesenian di kota Medan.

Dr. Ok menambahkan bahwa Medan perlu pemimpin yang mengerti seni dan Kebudayaan, sebab apabila pemimpunya tidak mengerti seni dan hidaya akan tetap terabaikan.

"Siapapun dia pemimpin, kalau dia tidak punya rasa kebudayaan, karsa, ataupun cipta, tidak bisa berempati dan tidak bisa melihat potensi budaya yang ada, usaha yang dibuat oleh Dr. immanuel hanya menjadi memoar sejarah, 30 tahun terakhir saya pikir ekosisitem kebudayaan itu hancur, dan tidak melekat sebagai prioritas," katanya.

Ia mempertanyakan dimana tugas negara ataupun pemerintah, baginya segala pemikiran dan usaha para pelaku seni tidak dapat berdampak cukup besar, apabila tidak adanya campur tangan pemerintah dalam berkesenian.

Dr.Ok juga mengatakan Medan setidaknya perlu 20 tahun untuk mengembalikan seni dan budaya menjadi prioritas dan kebutuhan masyarakat seperti dahulu.

"Pokok-pokok pikiran kebudayaan yang cukup luar biasa sulit dibangun oleh kawan-kawan sekalian, nggak akan bisa menjadi jawaban bagaimana Medan ini bisa berubah menjadi kota yang berbudaya dimana seni mendapatkan tempat seperti kota lainnya, bagi saya perlu 20 tahun untuk mengembalikan Medan seperti dahulu," katanya.

Ia mengatakan dahulu orang tidak butuh konseptualisasi dalam berkesenian, namun seni dan budaya tetap tumbuh, Ia bahkan mencontohkan
kisah cinta para Tengku yang sebagian besar bertemu di tempat-tempat seni, seperti pementasan teater.

Halaman
12
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved