Bhiksu Phratama Raih Penghargaan Penggerak Masyarakat Plural KEIN

KEIN telah melakukan peninjauan di beberapa daerah di Tabagsel khususnya Barumun Nagari. KEIN menemukan sosok di balik keberlangsungan UMKM warga.

Bhiksu Phratama Raih Penghargaan Penggerak Masyarakat Plural KEIN
Tribun Medan/Alija Magribi
Penyerahan penghargaan kepada Bhiksu Phratama di Aula Lantai 1 Yayasan Budhia Bodhicittha oleh KEIN, Sabtu (29/6/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com-Memulai perjalanan rohani ke Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) pada tahun 1990-an Bhiksu Phratama Mahasthavira, kini dinobatkan sebagai tokoh Penggerak Masyarakat Plural (PMP) oleh KEIN.

Suhu Phratama, sapaan akrabnya meraih penghargaan tersebut di Yayasan Budhis Bodhicitta, Jalan Selam, Mandala, Medan, Sabtu (29/6/2019).

Penghargaan yang diperoleh Suhu Pratama, dijelaskan sejumlah anggota dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) bukan tanpa alasan. KEIN telah melakukan peninjauan di beberapa daerah di Tabagsel khususnya Barumun Nagari. Dari sana, KEIN menemukan sosok di balik keberlangsungan UMKM warga.

"Beliau lah orangnya (Suhu Phratama). Awalnya kami sedang mencari contoh-contoh UKM yang memiliki potensi yang besar dikembangkan untuk dijadikan pedoman masyarakat. Kemudian dilanjutkan mencari siapa sih sosok-sosok inisiatif warga," ujar Hendwi Wijaya, perwakilan KEIN yang hadir dalam penghargaan.

Setelah dua hari berpetualang di Tabagsel, menyusuru Taman Nasional Barumun Nagari, teman-teman KEIN, Imbuh Hendwi, sepakat mengatakan Suhu Phratama sebagai sosok penggerak masyarakat plural. Kekaguman tersebut bertambah, lantaran sosok Suhu Phratama berbeda dari karakter masyarakat setempat.

Hendwi menceritakan perjalanananya ke Tabagsel dengan menemui petani-petani beberapa komoditas lokal seperti kopi, Nilam, Aren, Jahe dan lain sebagainya. Mereka juga berkunjung ke beberapa pesantren yang dikenal cukup banyak di Tabagsel.

"kami lihat Bhiksu Phratama tidak ada batas dengan mereka. Bhiksu Phratama bahkan sudah berteman dengan gajah dan macan di sana. Kami juga berkunjung ke Paluta untuk melihat pemberdayaan desa," ujar Hendwi.

Dari kiprah Bhiksu Phratama, Hendwi dan teman teman KEIN berujar sebagai manusia dan makhluk sosial. Perlu kiranya membangun ekonomi secara bersama-sama. tanpa selalu memikirkan kepentingan pribadi yang selama ini acap kali dilakukan manusia,

Sementara itu, Bhiksu Phratama Mahasthavira mengatakan sebagai umat Budha, Dharma tidak pernah satu per satu. Sesungguhnya semua perbedaan adalah sebuah kesatuan. Oleh karena itu apa yang dirinya lakukan tidak perlu dianggap dari sudut pandang perbedaan.

"Kita bicara kemanusiaan. Kalau apa yang kita buat itu baik tentu akan berpotensi menjadi baik untuk semua, dan karma baik itu akan terus berlanjut," katanya.

Bagi tokoh keagamaan yan g juga pembina Yayasan Bodhicita ini, dirinya tak pernah mendapatkan penolakan dari warga. Warga bahkan warga menyambutnya dengan baik saat menerjunkan beberapa penyuluh pertanian.

Ia pun mensyukuri ekonomi UMKM masyarakat sekitar telah membaik dan terus bertumbuh. Baginya masyarakat sendiri lah yang menjaga hutan negara, tanpa perlu dititipkan kepada orang lain.

Dalam acara itu juga, tampak hadir beberapa organisasi kemasyarakatan umat Buddha, Pimpinan Yayasa Bodhicittha dan Anggota DPRD Sumut Brilian Moktar.

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved