Sampah Berserakan di Pasar Petisah, Bau Tidak Enak Menyeruak di Inti Kota Medan

Bau tidak enak menyeruak dari tempat pembuangan sampah di Pasar Petisah. Meski di sana merupakan tempat pembuangan sampah, namun terlihat berserakan.

Sampah Berserakan di Pasar Petisah, Bau Tidak Enak Menyeruak di Inti Kota Medan
Tribun-Medan / Nanda Rizka Nasution
BERSERAKAN - Sampah terlihat tidak teratur dan berserakan di tempat pembuangan sampah di Pasar Petisah. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bau tidak enak menyeruak dari tempat pembuangan sampah di Pasar Petisah. Meski di sana merupakan tempat pembuangan sampah, namun terlihat berserakan.

Lokasi tempat pembuangan di inti kota membuat satu pemandangan yang kurang elok.

Persoalan dan penanganan sampah memang masih menjadi satu masalah yang belum kunjung usai. Seorang supir ojek online, Lincoln mengatakan, hal ini didukung oleh masyarakat yang kurang peduli.

"Banyak juga yang kurang sadar. Misalnya ada bungkus permen untuk mengantonginya dulu. Mungkin sudah kebiasaan. Hal kecil tersebut berkaitan dengan edukasi yang baik untuk membuang sampah pada tempatnya," katanya.

Selain itu, pemerintah juga dianggapnya kurang serius menyikapi hal ini. Contohnya dalam pengelolaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Ketika saya keliling, banyak yang tidak teratur. Harusnya sampah bisa didaur ulang. Yang organik bisa untuk menyiptakan pupuk dan harusnya pemerintah mengajak masyarakat untuk menyelesaikan sampah yang sudah menggunung ini," ujarnya.

Ia juga menceritakan pengalamannya dikutip uang retribusi sampah Rp 17 ribu, setiap bulan. Tetapi ia tidak tahu untuk tujuan aokasinya ke mana. Ia bertanya mengapa masyarakat dibebankan.

"Kalau dikutip, untuk apa. Harusnya ada publikasi ini untuk ini untuk bisa membuat TPA. Jujur saja ke masyarakat sehingga masyarakat sadar dan merasa dibutuhkan pemerintah. Dan membuka hati untuk sama-sama memperbaiki," kata warga Medan Selayang ini.

Lincoln mengatakan, jika ia diposisi pemerintah, ia akan meminta memaksimalkan perangkat kecamatan untuk sosialisasi ke masyarakat.

Ada kepala seksi bidang di kecamatan, jadi bekerja sama. Membuka forum di tengah masyarakat untuk memberikan solusi sehingga lambat laun akan terselesaikan.

"Jangan lagi alasan anggaran minim ya. Klasik sekali itu. Kalau political willnya wali kota. Saya yakin akan ada perubahan lebih baik. Jangan menunggu dan harus berani memulai," ujarnya.

Sementara bagi Abdi, sampah di Kota Medan banyak seiring dengan banyaknya warga. Ia juga menyoroti soal pengelolaan TPA yang belum maksimal.

"TPA itu menumpang di tanah kosong. Setelah dibeli dan ditembok, dibuat masyarakat di luar. Jadi berserakan dan membuat kotor, tentunya berbau dan menganggu," terangnya.

Ia pun tidak menampik masyarakat juga membuang sampah di jalan. Abdi berharap, masalah sampah segera teratasi agar sebagai masyarakat tidak malu tinggal di Kota Medan.
(cr17/tribun-medan.com)

Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved