9 Penyadap Getah Pinus yang Ditangkap di Hutan Samosir Ternyata Baru Didatangkan dari Jawa

"Sesuai keterangan, mereka baru saja tiba dan masih ingin mulai bekerja. Mau kami dudukan perkaranya sementara hasil belum ada,"kata Jonser.

9 Penyadap Getah Pinus yang Ditangkap di Hutan Samosir Ternyata Baru Didatangkan dari Jawa
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Sembilan penyadap getah pinus dikawasan hutan lindung Tele, asal Cilacap, Jawa Tengah, saat diamankan di Polres Samosir. 

TRIBUN-MEDAN.com-Sebanyak sembilan penyadap getah pinus asal Pulau Jawa diinterogasi di Mako Polres Samosir, Kamis (4/7/2019) setelah diamankan pihak Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara didampingi KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) XIII unit XIX Kabupaten Samosir, 2 Juli 2019 kemarin.

Kasatreskrim Polres Samosir, AKP Jonser Banjarnahor mengatakan sembilan orang itu telah menjalani pemeriksaan di Polres Samosir karena dugaan melakukan aktifitas pengrusakan lingkungan di kawasan hutan lindung dengan menyadap getah tanpa perijinan diatur sesuai undang-undang. 

"Pasca penangkapan, Dinas Kehutanan menyerahkan ke kami untuk diproses. Setelah diinterogasi sudah kami serahkan kepada KPH 13 Dolok Sanggul," ujarnya.

Sembilan pelaku berinisial SO, DI, RO, SI, WM, SM, SN, JO dan MN saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Polres Samosir usai diserahkan pihak Dinas Kehutanan Provsu karena dugaan melakukan aktifitas pengrusakan lingkungan di kawasan hutan lindung dengan menyadap getah tanpa perijinan diatur sesuai undang-undang.

Sesuai keterangan sejauh ini dikumpulkan, para pekerja tidak dapat menunjukkan ijin berupa berkas NKK (Naskah Kesepakatan Kerjasama) yang merupakan MoU kesepakatan antara pihak pemanfaat hasil hutan bukan kayu tanpa merusak alam bersama dinas terkait.

"Kemarin saat diamankan, mereka tidak dapat menunjukkan dokumen kelengkapan berkas terkait keberadaan mereka di sana. Namun, pada akhirnya setelah dibawa ke kantor polisi melalui ketua kelompok tani mereka menunjukkan sejumlah berkas ijin dan sedang kami selidiki," ujarnya.

Berdasarkan isi perjanjian kerjasama kemitraan kehutanan antara UPT KPH wilayah XIII Doloksanggul dengan Kelompok Tani Hutan Karya Tele Desa Partungko Naginjang bernomor 820/215/KPH-XIII/2019 serta nomor 01/KTH-KT/KK/V/2019 yang ditandatangai Benhard Purba selaku Kepala UPT KPH-XIII, kemudian Bistok Situmorang sebagai Ketua Kelompok Tani bersama Kepala Desa Partungko Naginjang Edira Sihotang, diketahui Plt Kadis Kehutanan Provsu Rosihan Noor, disebutkan bahwa luas areal kawasan hutan lindung yang akan dimanfaatkan hasilnya guna penyadapan getah pinus itu seluas 130 Ha (Hektare).

Hal itu dikatakan AKP Jonser Banjarnahor belum bisa memenuhi unsur dalam mendudukan suatu perkara hukum yang saat ini sedang digelar pihaknya mengingat penyadapan getah sama sekali belum dilakukan oleh para pekerja.

"Sesuai keterangan, mereka baru saja tiba dan masih ingin mulai bekerja. Mau kami dudukan perkaranya sementara hasil belum ada, ini yang sedang kita dalami menentukan proses hukum lebih lanjut," terang Jonser.

Disinggung soal apa saja barang bukti dan berapa lama sudah beroperasi serta penadahnya siapa, kata Jinser belum terpenuhi unsur hukum yang dapat menetapakan siapa tersangkanya. (jun-tribun- medan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved