Idaham Pantau Home Industri Pengasapan Ikan yang Sudah Ada Sejak Tahun 70-an di Semarang

Wali Kota Binjai dua periode ini melakukan kunjungan di sela mengikuti rapat kerja nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).

Idaham Pantau Home Industri Pengasapan Ikan yang Sudah Ada Sejak Tahun 70-an di Semarang
TRIBUN MEDAN/HO
Wali Kota Binjai, Muhammad Idaham dan ibu TP PKK bersama rombongan memantau bisnis rumahan ikan asap Bandarhajo di Semarang, Jumat (5/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Wali Kota Binjai HM Idaham bertukar informasi potensi kuliner kearifan lokal antar daerah. Dia bersama Ketua TP PKK Hj Lisa Andriani mengunjungi Sentra Usaha Home Industri Pembuatan Ikan Asap Bandarharjo, di Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang Selasa (2/7/2019).

Wali Kota Binjai dua periode ini melakukan kunjungan di sela mengikuti rapat kerja nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ke XIV di Kota Semarang, Jawa Tengah, yang berlangsung tanggal 1 hingga 5 Juli 2019 mendatang.

Kedatangan Idaham disambut oleh Camat Semarang Utara, Aniceto Magno da Silva dan istri. Idaham bersama rombongan meninjau proses pembuatan ikan asap yang sudah dikenal sebagai kuliner khas kota Semarang.

Rombongan Pemko Binjai langsung ke lokasi berinteraksi dengan para pengusaha ikan asap. Di mana, mereka berdialog dengan Ketua Paguyuban Panggang Mangut di Bandarharjo, Zaenuri.

Zaenuri menjelaskan bahan baku ikan asap adalah ikan berukuran besar, antara lain Ikan Cakalang, Pari, Mayung, dan Tongkol. Dengan pengasapan, ikan-ikan bisa l3bih tahan lama, karena sekaligus pengawetan, sehingga bisa dijadikan oleh-oleh khas lokal.

"Caranya ikan dibersihkan, dagingnya dipotong kecil kemudian dilakukan pengasapan. Ikan asap biasanya diolah jadi mangut, yaitu masakan berkuah kental dan pedas," katanya.

Kata Zaenuri, yang menjadi daya tarik, tidak hanya daging ikan saja yang punya nilai ekonomi. Bahkan, bagian insang ikan bisa dijemur hingga kering diolah lagi menjadi kerupuk ikan yang harganya mencapai Rp150 ribu hingga Rp 600 ribu per kilo.

"Saat ini ikan asap tidak hanya dipasarkan di Indonesia saja, melainkan penjualannya sudah merambah sampai ke Singapura dan China," katanya.

"Tulang ikan juga tidak dibuang, bisa dikumpulkan untuk dijual kepada pengepul dan diolah sebagai pakan ternak," jelas Zaenuri sukses mempekerjakan 30 orang pekerja secara turun temurun.

Camat Semarang Utara, Aniceto menjelaskan bahwa bisnis potensial ini telah ada sejak era tahun 70an. Ikan asap yang dijual di pasar-pasar kota Semarang biasanya sudah ludes sebelum tengah hari karena tingginya minat pembeli.

Walikota HM Idaham mengaku sangat senang bisa mengunjungi usaha pengasapan ikan Bandarharjo. Ke depan, Kota Binjai juga bisa mengembangkan usaha sejenis dengan memanfaatkan potensi perikanan yang ada.

"Nantinya restoran dan rumah makan bisa berinovasi untuk menciptakan menu makanan berbahan ikan asap. Jadi rumah makan pun punya daya tarik, karena ikannya tidak cuma dibakar atau digoreng," kata Idaham.

Kabag Humas Pemko Binjai, Rudi Iskandar Baros mengatakan, saat ini Kota Binjai sudah ada potensi bibit ikan di Dinas Pertanian. Sehingga proses dan manajemen pasar ikan asap yang di Semarang bisa dijadikan penghasil pendapat daerah.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved