Jual 125 Ribu 'Lem Setan' Palsu di Medan, Acuan Terancam Penjara 5 Tahun, Masyarakat Hati-Hati!

Terdakwa mengakui bahwa 260 karton lem merek SI A NO KU RI DO (Lem Setan) yang disita kepolisian adalah benar miliknya.

Jual 125 Ribu 'Lem Setan' Palsu di Medan, Acuan Terancam Penjara 5 Tahun, Masyarakat Hati-Hati!
TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Sidang Kasus pemalsuan lemmerek SI A NO KU RI DO atau yang lebih dikenal 'Lem Setan' dengan terdakwa Nyo Seng Tjoan alias Acuan (56) berlanjut di Pengadilan Negeri Medan, Jumat (5/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sidang Kasus pemalsuan lem/perekat merek SI A NO KU RI DO atau yang lebih dikenal masyarakat Sumut 'Lem Setan' dengan terdakwa Nyo Seng Tjoan alias Acuan (56) berlanjut di Pengadilan Negeri Medan, Jumat (5/7/2019).

Sidang beragendakan keterangan terdakwa ini dipimpin langsung Hakim Ketua Djaniko Girsang yang merupakan Ketua PN Medan.

Terdakwa Acuan sebelumnya dilaporkan ke Polda Sumut tanggal 15 Oktober 2018 oleh Direktur PT. Putra Permata Maju Perkasa, Dicky Pramono Peh selaku pemilik lisensi merek Lem SI A NO KU RI DO dan logo G yang asli menemukan lem dengan tulisan merek SI A NO KU RI DO dan logo G yang palsu diperdagangkan oleh terdakwa.

Dalam keterangannya, terdakwa mengakui bahwa 260 karton lem merek SI A NO KU RI DO (Lem Setan) yang disita kepolisian adalah benar miliknya.

Hal tersebut dijawabnya saat ditanyakan Hakim Ketua Djaniko, "Apa yang membuat saudara berurusan dengan kepolisian," tanyanya.

"Karena lem tersebut sudah bermasalah di pihak kepolisian. Karena saya pemiliknya," ungkap terdakwa Acuan.

Ia menjelaskan bahwa barang tersebut didapatnya dari seorang bernama Siao Wang asal Jakarta yang menawarkan barang tersebut kepadanya dengan bonus dan harga yang lebih murah.

"Sekitar satu bulan lebih, sebelumnya saya juga menjual. Ini bukan ide saya sendiri, awalnya terjadi pada September ada orang Jakarta membawa contoh barang tersebut kepada saya untuk diperdagangkan. Perbedaan harga sekitar 50 ribu perkarton lebih murah. Dan ada juga bonus," jelas terdakwa.

Hal tersebut sontak membuat Hakim Djaniko mempertanyakan kenapa terdakwa tidak melakukan pengecekan atas keaslian barang tersebut ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kanwil Sumut.

""Lebih murah tadi, menurut saudara, wajar tdk harusnya berpikir dan bertanya, Untuk barang yang persis sama kenapa harganya lebih murah?" tanya Hakim.

Halaman
1234
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved