Kampung Kopi Memberi Warna Baru Festival Bunga dan Buah Kabupaten Karo

Kampung kopi ini baru pertama kali digelar setelah beberapa tahun penyelenggaraan festival bunga dan buah.

Kampung Kopi Memberi Warna Baru Festival Bunga dan Buah Kabupaten Karo
TRIBUN MEDAN/MUHAMMAD NASRUL
Suasana Kampung Kopi pada festival bunga dan buah di Taman Mejuah-Juah, Jalan Gundaling, Berastagi, Kabupaten Karo, Minggu (7/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BERASTAGI - Dalam kegiatan festival bunga dan buah yang digelar mulai Jumat (5/7/2019) kemarin, hingga Minggu (7/7/2019) ini, mendapatkan berbagai tanggapan dari masyarakat yang datang. Di antara puluhan stand yang ada di lokasi festival bunga dan buah, ternyata ada satu tempat yang menjadi perhatian para pengunjung, yaitu kampung kopi.

Kampung kopi sendiri, berada di pelataran parkir di sebelah kanan di dalam komplek Taman Mejuah-Juah. Amatan www.tribun-medan.com, stand yang berukuran kurang lebih 5x10 meter itu, dipenuhi masyarakat yang hadir ke festival ini.

Menurut informasi, kampung kopi ini baru pertama kali digelar setelah beberapa tahun penyelenggaraan festival bunga dan buah.

Hal ini tentunya menjadi perhatian, karena menjadi wajah baru pada kegiatan tahunan ini.

Seorang pengunjung Erdian Sembiring Kembaren, mengaku sangat mengapresiasi adanya kampung kopi ini. Dirinya mengatakan, tempat tersebut membawa dampak baik bagi penyelenggaraan festival bunga dan buah.

Warga Berastagi ini mengaku, selama penyelenggaraan festival bunga dan buah, baru tahun ini diadakan kampung kopi seperti ini.

"Saya sangat senang sekali melihat kampung kopi ini, dan ini dapat kita bilang inovasi. Karena baru tahun ini ada kampung kopi, biasanya enggak ada," ujar Erdian, saat ditemui di Taman Mejuah-Juah, Jalan Gundaling, Berastagi, Minggu (7/7/2019).

Di lokasi tersebut, pada bagian dalamnya ternyata suasana kampung terlihat jelas. Karena sesuai namanya, lokasi tersebut juga dikonsep sebagaimana suasana yang ada di kampung. Dengan bangunan menyerupai pondok yang terbuat dari bahan bambu, serta pada bagian atasnya ditutup dengan atap daun rumbia. Tak hanya itu, pada bagian bawah atapnya juga terlihat pernak pernik tempat lampu yang terbuat dari anyaman bambu.

Melihat konsep ini, Erdian kembali memberikan tanggapan yang positif dengan adanya konsep seperti ini. Dirinya melihat, panitia kampung kopi mengedepankan ekologi dalam konsep yang diusung. Karena untuk bangunannya memanfaatkan apa yang ada dari alam.

"Ini sangat menarik konsepnya, karena memberikan edukasi kepada masyarakat. Karena kopi berasal dari alam, dari sini kita diberikan konsep menikmati kopi langsung berdekatan dengan alam," ucapnya.

Dirinyapun berharap ke depannya, agar kampung kopi selalu diikutsertakan pada setiap acara-acara besar seperti festival bunga dan buah ini. Tak hanya itu, dirinya juga memberikan saran agar kampung kopi ini ditambah tempat-tempatnya, agar masyarakat dari luar daerah bisa juga menikmati hal serupa.

"Misalnya di Tahura, Gundaling, dan Tongging, ini kan menambah daya tarik tersendiri. Karena Karo punya potensi yang dapat diperkenalkan ke luar. Supaya masyarakat luar daerah bisa mengenal kalau Karo punya komoditi yang unggul, yaitu kopi yang tidak kalah dengan kopi dari darah lain," ungkapnya.

Ketua Asosiasi Pelaku Kopi Karo (APKK) Antoni Bangun, mengaku memang pihaknya sengaja menghadirkan kampung kopi pada penyelenggaraan pesta bunga dan buah tahun ini. Dirinya menyebutkan, sesuai dengan tujuan dari terbentuknya asosiasi ini beberapa bulan lalu, mereka ingin mengangkat citra dari kopi Karo sendiri.

Dirinya juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Karo, karena mereka telah diberikan kesempatan untuk ikut berpartisipasi pada acara tahunan ini.

Antoni mengatakan, pada kampung kopi ini mereka tak hanya menyediakan kopi saja. Dirinya menyebutkan, di lokasi tersebut mereka juga menyediakan informasi seputar proses kopi mulai dari hulu hingga ke hilir.

"Memang tahun ini kopi Karo disediakan tempat untuk ikut serta, makanya kita apresiasi kepada Pemkab Karo. Di sini kita berusaha semaksimal mungkin untuk menghadirkan suasana sesuai konsep kita. Di sini kita juga berikan sisi edukasi, tentang bagaimana proses budidaya kopi, hingga ke hilirnya," ungkapnya.

Saat ditanya perihal konsep, dirinya mengaku memang pihaknya sengaja menghadirkan suasana khas pedesaan. Dirinya mengatakan, pemilihan konsep ini melihat dari kearifan lokal yang ada di desa.

"Jadi keeratan masyarakat kampung itu sangat kental, untuk itu kita mau menghadirkan suasana seperti itu di tempat ini. Jadi nuansa kampung kita bawa ke sini," katanya.

Antoni berharap, kampung kopi ini dapat terus berkelanjutan pada acara-acara selanjutnya. Pria berkacamata itu menyebutkan, dengan adanya kampung kopi ini,  berharap mereka dapat membantu pemerintah dalam sektor pariwisata dan perekonomian.

"Kami berharap dari kopi dapat mendorong perkembangan pariwisata, dan kreativitas lain. Dari kampung kopi ini, kita berharap mendorong adanya perkembangan dan suasana baru, seperti kreativitas dan perkembangan budaya," pungkasnya.

(cr4/tribun-medan.com) 

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved