Menjadi Penyaji Musik Cakram, Menghibur Di Gemerlap Malam Kota Medan

Bagi Fariss dan Arina, mereka tak menampik pandangan negatif orang terhadap profesinya.

Menjadi Penyaji Musik Cakram, Menghibur Di Gemerlap Malam Kota Medan
TRIBUN MEDAN/HO
Dj Arina Rose. Menjadi penyaji musik cakram (Disjoki) sebagai seniman penghibur malam di beberapa klub dan bar di Kota Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berprofesi menjadi seorang Disjoki (DJ) sangat jarang berada di benak-benak anak-anak sebelumnya. Stigma terhadap penyaji musik cakram itu masih menggelayut sebagai aktivitas yang cenderung negatif. Namun di sisi lain, kehadiran para disjoki di sebuah kota dapat dikatakan sebagai cerminan wisata malam sebuah daerah.

Pro-kontra tersebut, diakui sendiri oleh beberapa pemuda yang berprofesi sebagai disjoki di Kota Medan.

Keduanya adalah Dj Fariss dan Dj Arina Rose, dua diantara pegiat musik modern di Medan. Bagi Fariss dan Arina, mereka tak menampik pandangan negatif orang terhadap profesinya.

"Yah, bagaimana ya. Ini kan hiburan (entertainment). Kita bekerja menghibur tamu dengan musik yang kita sajikan. Memang DJ identik dengan malam, saya gak menolak kalau aktivitas kami ini dipandang negatif," Faris dan Arina, Sabtu (6/7/2019) di salah satu kafe di Jalan Setiabudi, Medan.

Faris sendiri yang menekuni Dj sejak tahun 2012 ini menambahkan, bahwa menjadi seorang disjoki pasti sulit memisahkan diri dari aktivitas mabuk-mabukan. Sebab setiap perform (tampil) tentunya berada di lokasi klub ataupun bar yang menyediakan minuman tersebut.

"Bagaimana ya caranya menolak saat diajak minum, paling enggak kita terima juga, meski minumnya hanya seteguk, atau pura-pura minum. Tapi batasan saya sampai di situ saja. Saya minum untuk menikmati musik. Di Manajemen pun ada kode etik, gak ada narkoba," katanya.

DJ Fariss. Menjadi penyaji musik cakram (Disjoki) sebagai seniman penghibur malam di beberapa klub dan bar di Kota Medan.
DJ Fariss. Menjadi penyaji musik cakram (Disjoki) sebagai seniman penghibur malam di beberapa klub dan bar di Kota Medan. (TRIBUN MEDAN/HO)

Penyaji musik cakram (DJ) di Kota Medan menurut Fariss saat ini sudah meningkat. Ia menaksir ada 200 lebih disjoki di Kota Medan dan angka itu belum termasuk yang bergerak sendirian (Non-Manajemen) ataupun yang pemula.

Beberapa disjoki di Kota Medan saat ini sudah mumpuni (Professional) dalam menyajikan lagu lagu yang enak di telinga penikmatnya. Lagu-lagu radio bergenre hiphop, R&B, Breakbeat dapat diolah lebih menarik sehingga mengajak pengunjung tempat hiburan malam menari bersama.

Meski begitu, tetap saja, imbuh Fariss bahwa disjoki perempuan adalah yang paling diminati pasar. Sebab kemahiran disjoki perempuan apalagi ditambah kemolekannya pasti menjadi nilai tambah.

Disinggung berapakah upah seorang disjoki, Fariss mengaku tak begitu besar yang ia terima setiap bulannya. Di bawah manajemen yang dikontrak oleh sebuah klub malam, ia meraup sekitar Rp 2,5 juta/bulan. "Saya perform sebulan delapan kali hanya setiap Sabtu-Minggu selama empat jam. Itu lah kira-kira yang saya terima dan belum termasuk mana tahu ada event lagi," katanya.

Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved