Nilai Kebudayaan dan Kesakralan di Balik Lukisan Tandok Karya M Yatim

Bagi orang Batak, Tandok sangatlah sakral dan digunakan saat upacara adat seperti pernikahan, lahiran hingga cara kematian.

Nilai Kebudayaan dan Kesakralan di Balik Lukisan Tandok Karya M Yatim
TRIBUN MEDAN/HO
Kadisbudpar Sumut DR Wan Hidayati (kanan) saat menerima lukisan 'Inong Merajut Tandok' Karya Pelukis M Yatim di Hotel Grand Aston City Hall Medan, Senin (8/7/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com - Buat nenek ku di Samosir, aku tau lapuk dan rapuhnya dinding rumah itu serapuh dan selapuk raga mu. Pecah retak guci tempat air di sana sepecah dan seretak harapan mu dalam kehidupan.

Jari tangan dan kaki tua mu menjadi saksi bisu perjalanan itu. Namun karya-karya mu lah yang selalu menjembatani hubungan sosial di antara kami.

Begitu petikan narasi sosial yang termaktub dalam sebuah lukisan seorang nenek tua karya M Yatim.

Dalam lukisan itu, sang nenek digambarkan sedang duduk di lantai merajut bayon (pandan) untuk dijadikan sebuah Tandok.

M Yatim, seorang pelukis mantan Guru Seni Rupa SMAN 3 Jember yang kini memilih menghabiskan hidupnya di Kota Medan, Sumatera Utara.

Lukisan hasil kuasan jemarinya itu diserahkan kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumut, Dr Hj Wan Hidayati dan Kepala Museum Negeri Sumut Martina SH, Senin (8/7/2019) di Hotel Grand Aston Medan.

"Ini diharapkan menjadi langkah awal hubungan dan perhatian Pemprov Sumut untuk mengeksplorasi kebudayaan dan seni Sumatera Utara melalui seni lukis," harap M Yatim.

Yatim sedikit menjelaskan soal anyaman Tandok yang digambarkan dalam lukisan tersebut.

Menurutnya, Tandok tidak hanya dimaknai sebuah barang hantaran atau wadah yang terbuat dari anyaman bayon (pandan).

Bukan juga sebuah barang ekonomis yang bisa menghasilkan rupiah.

Halaman
123
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved