Perupa Ferial Afif Tersentuh saat Ekspedisi Boru Lopian di Parlilitan

Al mengatakan bahwa dalam berkarya ia tidak pernah menolak intuisi dan terbuka untuk setiap perubahan.

Perupa Ferial Afif Tersentuh saat Ekspedisi Boru Lopian di Parlilitan
Tribun Medan/Gita Nadia Putri Tarigan
Perupa Ferial Afif (jilbab biru) dalan sesi sharing yang dilaksanakan oleh Komunitas Perempuan Hari ini bertajuk Perempuan Berkarya Tanpa Batas di Literacy Coffe Jalan Jati II, Teladan Timur Kecamatan Medan Kota, Senin (8/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Komunitas Perempuan Hari Ini menghadirkan seniman Ferial Afif dalam diskusi bertajuk Perempuan Berkarya Tanpa Batas di Literacy Coffee Jalan Jati II, Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Senin (8/7/2019).

Perempuan asal Yogyakarta yang akrab disapa Al ini memang dikenal memiliki pola berkaryanya tak punya batasan, hingga gaya tertentu. Secara artistik dia kerap beralih-peran sebagai fasilitator, kurator, penulis, peneliti, produser, dan lainnya.

Sambil menyelesaikan Ekspedisi Ia menyempatkan diri menyapa para seniman dan perupa Medan, serta berdiskusi tentang pengalamannya berkarya selama sepuluh tahun.

"Dalam beberapa kali berkarya, aku banyak belajar dari pengalaman-pengalaman yang spontan, tidak ada suatu persiapan istimewa. Ya mengalir begitu saja, dengan perlengkapan seadanya yang disediakan alam. Dan aku juga sering menggunakan intuisiku sehinggga enggak jarang banyak perubahan dalam jam-jam terakhir menuju perform," katanya

Al mengatakan bahwa dalam berkarya ia tidak pernah menolak intuisi dan terbuka untuk setiap perubahan, sehingga tidak jarang dalam proses berkarya terkadang banyak benturan antar kelompok karena adanya perubahan.

"Saya lebih suka dengan kolaborasi yang otomatis, jadi saya dan kelompok seni, bergerak di bidang apapun yang membuat kami tertarik untuk membahasnya, seperti beberapa pengkajian yang tidak mengenal batas, tentang gender, keleluhuran, seksologi, dan lainnya," katanya.

Salah satu karya yang Ia dapat dari proses kolaborasi otomatis yang hingga saat ini memberikan kesan yang menyentuh baginya, yaitu saat ekspedisi Boru Lopian di Parlilitan. Ia bercerita dalam ekspedisi tersebut Ia mengaku melakukannya dengan alami tanpa ada rencana yang matang, meski demikian karya berupa video yang dihasilkan telah diputar di Belgia dalam suatu pameran seni.

"Semua mengalir gitu aja, di sana tiba-tiba aja semua kebutuhan terpenuhi, seperti anak-anak yang nyanyi ternyata semuanya hapal lagu boru Lopian, terus properti yang digunakan juga tersedia, dan pemain musiknya juga menawarkan diri sendiri, jadi itu kayak kolaborasi terngebut, dan udah di pamerkan di Belgia. Tapi tidak berdiri sendiri, kami ajak juga anak-anak disana terlibat," katanya.

Al memiliki berbagai karya yang sudah tersebar di beberapa negara seperti di Korea Selatan, Jerman, Belgia, Inggris, Belanda, Jepang, Madagaskar dan masih banyak lagi. Dalam berkarya Ia kerap penasaran dengan orang lain serta kondisi kehidupan orang tersebut, dalam berkarya Ia kerap mengangkat tema sosial, lingkungan, budaya, sejarah, hingga gender.

Hingga kini proses berkaryanya dapat dikatakan tumbuh organik, berkelindan di berbagai metode dan bekerjasama dengan orang baru dengan cara mengamati, meneliti dan mengeksplorasi berbagai hal.

Halaman
12
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved