Bea Wiharta Berbagi Pengalaman Jadi Pewarta Foto di Zona Bencana dan Konflik

Bea Wiharta sempat terganggu secara psikologis pasca meliput bencana tsunami Aceh 2004 lalu.

Bea Wiharta Berbagi Pengalaman Jadi Pewarta Foto di Zona Bencana dan Konflik
HO
Bea Wiharta saat berbagi pengalaman di dialog fotografi kebencanaan dalam The Journalism Literacy 

TRIBUN-MEDAN.com - Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) Medan berkerjasama dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan mengadakan dialog fotografi kebencanaan dalam The Journalism Literacy, Selasa (10/7/2019).

Mengangkat tema The Unexpected Disaster, dalam kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Pewarta Foto Indonesia, Bea Wiharta.

Di hadapan puluhan peserta terdiri dari fotografer, pegiat film dan mahasiswa dari beberapa unversitas di Kota Medan, Bea membagikan pengalamannya meliput perang di negara konflik seperti Afghanistan dan daerah bencana termasuk tsunami Aceh dan erupsi Sinabung di Karo, Sumatera Utara (Sumut).

“Dalam meliput bencana, ada banyak hal bisa terjadi seperti fasilitas yang tidak memadai pasca bencana, kelelahan fisik dan mental, gangguan psikologis hingga ancaman keselamatan jiwa,” ujar Bea.

Ia benar-benar merinci apa yang seharusnya dipersiapkan fotografer dalam beradaptasi di zona bencana yang tidak terduga.

"Banyak hal memilukan ketika berdiri dihadapan ratusan jenazah dan orang-orang yang mencari anggota keluarganya yang hilang dengan pandangan kosong. Beban ini yang tak dapat saya tanggung, sehingga saya sempat dibawa ke psikiater,” tuturnya.

Bea Wiharta sempat terganggu secara psikologis pasca meliput bencana tsunami Aceh 2004 lalu, karena terlalu banyak berhadapan dengan ratusan jenazah dan juga harus melihat secara langsung kesedihan para keluarga korban.

“Moralitas sebagai dasar kemanusiaan sangat tergerak ketika momentum itu menjadi tanggung jawab seorang pewarta foto untuk dapat menyampaikan informasi kepada khalayak ramai,” terangnya.

Ia mengungkapkan, dalam kondisi tersebut persiapan sebelum bertugas adalah penting untuk menentukan keberhasilan dalam proses adaptasi di zona bencana, sebab sangat tidak baik jika akhirnya malah merepotkan korban bencana.

“Metode utama yang dilakukan adalah observasi, eksekusi dan kemudian perangkuman materi. Di mana dalam observasi, akan menentukan bekal yang penting untuk dipersiapkan, baik itu makanan peralatan, terutama mental," ungkapnya.

Ketua Panitia Panyahatan Siregar mengatakan, kegiatan tersebut diadakan agar semakin memperkaya pengetahuan para fotografer yang ada di Medan terutama yang menjalankan tugas jurnalistik di zona bencana.

“Di acara ini kita mengundang banyak peserta dari berbagai perguruan tinggi dan juga fotografer pemula yang ada di Kota Medan agar semakin memperkaya pengalaman mereka,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PFI Medan, Rahmad Suryadi, berharap agar melalui acara ini banyak audiens merasakan manfaat dan inspirasi dari setiap materi yang diberikan. (pra/tribun-medan. com)

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved