Para Korban Penipuan Oknum Pegawai BNI 46 Teriak-teriak, Terdakwa Dibawa Lewat Pintu Samping

"Penipu kau Rahmat (terdakwa). Kau makani uang kami dari hasil kerja keras kami,"ujar Hotna Rumasi Lumbantoruan seorang korban penipuan.

Para Korban Penipuan Oknum Pegawai BNI 46 Teriak-teriak, Terdakwa Dibawa Lewat Pintu Samping
TRIBUN MEDAN/TOMMY SIMATUPANG
Hotna Lumbantoruan korban penipuan yang diduga dilakukan oknum pejabat BNI 46 di Pengadilan Negeri Siantar, Rabu (10/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Sidang kasus penipuan yang diduga dilakukan oleh pegawai BNI 46 berlangsung ricuh di Ruang Sidang Kartika Pengadilan Negeri Kota Pematangsiantar, Rabu (10/7/2019).

Para korban yang merupakan nasabah BNI meneriaki terdakwa Rahmat mantan Kepala Koperasi Swadarma BNI sebagai penipu. Korban yang mayoritas ibu-ibu ini berteriak setelah hakim menyatakan sidang diskor.

Amatan tribun-medan.com, usai sidang dengan agenda saksi-saksi, terdakwa keluar melalui pintu samping. Para korban langsung mengejar hingga ke ruang tahanan terdakwa di pengadilan. Petugas pengadilan menahan kaum ibu-ibu itu utuk masuk. Sempat terjadi dorongan dari para korban ke petugas yang menjaga.

"Penipu kau Rahmat (terdakwa). Kau makani uang kami dari hasil kerja keras kami,"ujar Hotna Rumasi Lumbantoruan seorang korban penipuan.

Kepada tribun-medan.com, Hotna mengatakan telah mengalami kerugian Rp 1,3 miliar. Ia bersama dengan dua keluarganya tertipu. Ia mengatakan terdakwa yang saat itu menjabat sebagai pegawai BNI membujuk untuk menanamkan uang di koperasi. Terdakwa mengatakan koperasi itu resmi milik PT BNI. Kata Hotna, terdakwa mejanjikan mentransfer uang perbulan sebesar 1,5 persen dari uang simpanan. Namun, pada tahun 2016 bunga 1,5 persen yang dijanjikan tidak berjalan.

"Kami minta uang itu dikembalikan. Mereka berjanji akan mengembalikan uang itu. Tapi sampai sekarang satu persen uang itu pun tidak dikembalikan,"katanya.

Kata Hotna, ada 14 orang yang membuat laporan dalam kasus ini. Namun, dalam catatan ada 60 orang yang tertipu oleh ulah Rahmat oknum BNI. Ia mengatakan ada sekitar Rp 20 miliar uang digelapkan.

"Kalau dibilang ini koperasi tidak benar, kenapa stempel bertuliskan Swadarma BNI. Tbk. Telernya aja ketika saya ambil uang Rp 200 juta, mereka bilang itu koperasi BNI,"ungkapnya.

Resmida Lubangoruan yang juga korban mengungkapkan terdakwa membujuk dengan melakukan penanaman modal secara bertahap. Ia percaya karena dalam bertransaksi menggunakan logo BNI.

"Kami bertransaksi di BNI. Berkali-kali kami bertransaksi. Rahmat ini juga berkalu-kali menelfon saya,"katanya.

Sidang dengan agenda mendengar keterangan saksi-saksi ini menghadirkan empat orang saksi yakni Hotma Rumasi Lumbantoruan, Albina Siagian, Tota Resmida Lumbantoruan, dan Rumingang Sihombing. Persidangan ini dipimpin oleh Hakim Danar Dono. Sedangkan jaksa penutut umum Lince Damanik dan Robert Damanik.

Diketahui kasus ini terjadi sekitar tahun 2015. Pihak korban juga sudah berkali-kali melakukan demo dan melaporkan ini ke Polda Sumatera Utara. Teranyar, mereka melapor ke pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.

(tmy/tribun-medan.com)

Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved