Ratusan Pelajar dari Berbagai Provinsi di Indonesia Lawatan Sejarah Perkebunan di Medan

Antusiasme terlihat dari beberapa pelajar yang mencetuskan pertanyaan-pertanyaan menarik kepada Ketua Pembina Mu­seum Perkebunan Indonesia.

Ratusan Pelajar dari Berbagai Provinsi di Indonesia Lawatan Sejarah Perkebunan di Medan
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Ratusan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul mengulas sejarah perkebunan di Musem Perkebunan Indonesia di Jalan Brigjen Katamso, Kp. Baru, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Rabu, (10/7/2019) siang. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ratusan pelajar dari seluruh provinsi di Indonesia mengikuti lawatan sejarah ke Museum Perkebunan Indonesia Jalan Brigjen Katamso, Kp. Baru, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Rabu, (10/7/2019) siang.

Lawatan kali ini tergolong unik, sebab para pelajar yang rata-rata berstatus kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA) ini diajak mengulas segala hal tentang perkebunan, baik dahulu hingga sekarang.

Bahkan antusiasme terlihat dari beberapa pelajar yang mencetuskan pertanyaan-pertanyaan menarik kepada Ketua Pembina Mu­seum Perkebunan Indonesia, Soedjai Kartasasmita. Soedjai Kartasasmita yang dikenal sebagai maestro komoditas sawit ini pun menjawab seluruhnya secara santai.

Soedjai mengatakan pengolahan perkebunan saat ini telah bergeser dari semestinya. Ia mengatakan penerapan teknologi masa depan pada pengolahan perkebunan tak selalu memberikan nilai pada komoditas perkebunan yang dipasarkan.

"Seperti penggunaan mesin pangkas pada teh, sebelumnya kan kita petik satu persatu untuk memilah daun-daun yang pas untuk diproduksi, tapi kalau dengan mesin pangkas, kan, sudah beda. Ini yang mengurangi nilai-nilai kualitas teh," ujar Soedjai.

Ia melanjutkan, kehadiran pelajar sebagai generasi bangsa seperti acara ini adalah penggugah pengetahuan tentang perkebunan menghadapi tantangan zaman kepada mereka. Bagi Soedjai, tak perlu lagi mengungkit hal-hal yang sudah lalu (penjajahan).

Pria yang berusia 90-an ini berujar Indonesia yang dahulu dikenal sebagai negara rempah-rempah, negara yang dikenal kaya dengan komoditas pertanian dan perkebunan di Dunia justru telah hilang. Malah, Imbuhnya, sebutan negara rempah-rempah dimiliki Singapura.

"Hai anak-anak, tahu negara rempah-rempah sekarang?, Singapura!," cetusnya.

"Kalau ditanya mana yang lebih penting jadi negara maritim atau negara agraris, tentu jawabannya gak bisa memilih salah satunya. Sebab semuanya terikat," tambahnya.

Lawatan sejarah perkebunan yang digagas Direktorat Jenderal Sejarah Kemendikbud ini pun disyukuri oleh Dikianto, pelajar asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Ia mengaku diundang hadir mengunjungi beberapa spot sejarah di Kota Medan khususnya mengulas sejarah perkebunan di Indonesia.

"Seru, senang juga bisa diundang mengikuti acara ini. Bisa menambah wawasan apalagi Museum Perkebunan ini kan baru. Kami bisa mengulas sejarah dan bisa dibagikan kepada teman teman saya sepulang dari Medan," ujar Dikianto.

Rencananya kehadiran pelajar dari seluruh provinsi di Indonesia ini akan melanjutkan perjalanana ke beberapa spot menarik lainnya seperti Istana Maimun dan Rumah Tjong A Fie. Dalam perjalanan kali ini juga, mereka diwajibkan mengulasnya dalam bentuk digital seperti membuat artikel, membuat vlog dan mengunggahnya di media sosial.

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved