Emosi Terdakwa Bandar Sabu Ame Naik, Sidang Diskros hingga Dua Kali

Selama persidangan, Ame terus berkelit-kelit dan berdalih. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) ‎terus dibantahnya

Emosi Terdakwa Bandar Sabu Ame Naik, Sidang Diskros hingga Dua Kali
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Suami dan anak Ame ditolak menjadi saksi yang meringankan dalam agenda keterangan terdakwa di ruang Cakra PN Binjai, Kamis (11/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Kelakuan tempramental Terdakwa Bandar Sabu, Suarni alias Ame dan kawan-kawan membuat proses sidang berjalan alot.

Ketua Majelis Hakim Fauzul Hamdi didampingi Anggota Dedy dan David Simare-mare sampai dua kali menskors sidang beragendakan mendengarkan keterangan terdakwa, di Ruang Cakra PN Binjai, Kamis (11/7/2019).

Sidang dimulai pukul 15.00 hingga 16.30 WIB. Selama persidangan, Ame terus berkelit-kelit dan berdalih. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) ‎terus dibantahnya, dengan membangun opini dia dijebak polisi.

Alhasil, Jaksa Penuntut Umum Perwira Tarigan dan tiga Penasehat Hukum terdakwa pun bolak-balik maju ke meja hijau persidangan untuk sama-sama melihat isi BAP. Ketiga terdakwa masing-masing Suarni alias Ame, Juna Irawan dan Suratman alias Kutil terus membantah isi BAP.

"Kau (terdakwa) jangan belit sana belit sini," ketus JPU Perwira.

Menurut JPU, Ame mau melakukan transaksi sabu atas petunjuk Pohan (DPO). Namun lagi-lagi, pernyataan JPU yang membacakan isi BAP pun dibantah oleh Ame.

PH Ame sempat terkait terdakwa yang sempat dibebaskan demi hukum. Ada 120 hari masa penahanan di kepolisian, berkas tak kunjung lengkap. Selama bebas, ‎mereka pun dikenakan wajib lapor oleh penyidik kepolisian.

"Polisi buat tanggal mundur (waktu bebas), dibuat tanggal 26. Bebas tanggal 28 Februari. Pada 26 Maret ditangkap lagi, karena permintaan pak Jaksa Perwira," ujar Ame.

Pasca ditangkap lagi, polisi menyerahkan mereka ke jaksa sebagai tahap II, pelimpahan barang bukti dan tersangka. Lalu diarahkan ke LP.

‎Dalam sidang, tiga terdakwa menyatakan, barang bukti sabu yang dikemas dalam kotak lampu itu dibawa oleh seseorang yang diletakan di hadapan mereka. Namun pada sidang kali ini jawaban mereka berubah lagi, terdakwa menjawab tak tahu siapa yang meletakkan.

Ame sempat tekak urat leher, tak tahu diri bersalah, berdalih di hadapan majelis hakim. Kelakuan Ame yang berstatus residivis dan pemakai aktif narkotika diduga berdampak pada psikologisnya meluapkan emosinya.

Terutama ketika majelis hakim mencecar Juna yang pernah divonis 8 bulan kasus narkoba merupakan seorang kurir. Hasil penelusuran dalam layanan SMS telepon genggam warna hitam milik Juna, isi pesannya berkaitan dengan pengantaran transaksi sabu.

"Ada yang minta sekalian diantarkan kaca, ada. Mancis lagi. Kau antar sabu setengah Juna, nanti sore kukasih duitnya. Ada isi SMS begitu," tegas Hakim Dedy.

Pun tetap saj‎a, Juna menjawab tak tahu isi SMS itu dari siapa dengan nomor telepon selular belakangnya 7049. Mendadak terdakwa bealibi lupa ingatan.

"Enggak ingat saya pak. Benar itu hp saya," kata Juna.

"Kau boleh bantah, tapi nanti makin berat hukumanmu. HP lain juga sedang diupayakan untuk dibuka," ujar Hakim Dedy sembari mengangkat HP warna biru milik Ame.

Emosi Ame memuncak, ketika ditanya soal puluhan plastik klip‎ yang ditemukan dalam rumahnya, timbangan elektrik, dan dua paket sabusabu. Namun, lagi-lagi Ame membantah kalau plastik klip itu bukan miliknya.

Ame sampai tekak urat leher dengan Hakim Dedy. Padahal Hakim Dedy berupaya berbicara dengan santai.

"Aku disuruh Pohan suruh tunggu dekat rumah. Cuaca panas, mending saya berteduh di bawah pohon. Sok lugu bapak ini," cetus Ame dengan nada tinggi.

Tak ayal, majelis hakim meminta kepada penasehat hukum mengingatkan kelakuan kliennya Ame. Bahwa dalam sidang tidak boleh berbicara dengan emosi. Sidang pun diskors akibat emosi Ame selama 10 menit.

Skors dicabut. Hakim kembali mencecar Juna. Menurut majelis, isi pesan dalam HP milik Juna berkaitan dengan pemesanan sabu.

"Ada isi pesan lagi kau sama Kutil hati-hati. Jangan kau permainkan barang itu," kata Hakim Dedy.

"‎Di sini diharap kalian jujur. Kejujuran lebih baik. Ada yang mau bantah, silahkan. Itu hak kalian," tambah Dedy.

Terakhir, majelis hakim mencecar kepada ketiga terdakwa. Apakah menyesal melakukan perbuatan tersebut. Juna dan Kutil sepakat menjawab tidak menyesal. Sementara Ame menjawab menyesal.

Halaman
12
Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved