Petani Kopra di Asahan Mengadu ke Istana Negara, KPPU Segera Turun Tangan

Kepala KPPU Wilayah I, Ramli Simanjuntak mengatakan, salah satu masalah dalam pemasaran kelapa adalah lemahnya posisi petani di dalam pasar.

Petani Kopra di Asahan Mengadu ke Istana Negara, KPPU Segera Turun Tangan
Tribun manado/Arthur Rompis
Petani kopra 

TRIBUN-MEDAN.com-Perjuangan para petani kopra se-Kabupaten Asahan, Sumatera Utara yang mendatangi Istana Negara, Jakarta, untuk mengadukan anjloknya harga kopra menjadi perhatian Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah I yang berkedudukan di Medan.

KPPU berencana meneliti penyebab tidak menentunya harga kopra di Kabupaten Asahan.

Kepala KPPU Wilayah I, Ramli Simanjuntak mengatakan, salah satu masalah dalam pemasaran kelapa adalah lemahnya posisi petani di dalam pasar.

"Hal ini sangat merugikan para petani dan juga masyarakat konsumen. Harga yang rendah ditingkat petani akan
menyebabkan menurunnya minat petani untuk meningkatkan produksinya dan harga yang tinggi di tingkat konsumen menyebabkan konsumen akan mengurangi konsumsi," ujar Ramli.

Ia menjelaskan dari hasil kajian yang telah dilakukan oleh KPPU, pola perdagangan kelapa di Kabupaten Asahan pada umumnya petani memasarkan kelapa melalui pedagang pengumpul, sedangkan yang langsung ke kilang
pengolahan sangat kecil jumlahnya.

"Dalam upaya menjamin agar bahan baku tepung kelapa tersedia setiap saat, biasanya kilang pengolahan tepung kelapa memberikan modal usaha kepada pedagang pengumpul desa sebagai panjar untuk melancarkan pembelian kelapa kepada petani," ujarnya.

Ramli mengatakan umumnya petani kelapa merupakan masyarakat sekitar Kabupaten Asahan dan Tanjung Balai yang kemudian menjual kelapa ke pengumpul. Pengumpul kemudian mengupas kelapa dan memisahkan antara daging buah kelapa dan batok.

Kemudian agen disini merupakan pemilik delivery order (DO) yang kemudian mendistribusikannya ke Kilang Pengolahan. Pada desa atau daerah tertentu pengumpul bisa juga sekaligus menjadi agen.

Menurutnya, dari hasil penelitian sementara, di sekitar Kabupaten Asahan dan Tanjung Balai hanya terdapat sembilan perusahaan kilang pengolahan kelapa. Empat perusahaan terbesar, yaitu CV Sejahtera, UD. Sejati Coconut, PT Sumatera Baru, dan PT Pelita Adi Pratama, menguasai pangsa pasar ekspor tepung kelapa
(dessicated coconut).

"Artinya struktur pasar pada pelaku usaha tepung kelapa di wilayah Sumut ini memiliki karakteristik yang memungkinkan pabrikan dapat mengendalikan harga, sehingga tingkat persaingan usaha akan menurun," ungkapnya.

Lebih lanjut kata Ramli, dari penelitian yang dilakukan KPPU ini nantinya akan tergambar secara lebih jelas bagaimana struktur pasar di tingkat petani, pengumpul, pedagang besar, agen dan rantai distribusi di atasnya, bagaimana rantai distribusi kelapa dari produsen sampai ke konsumen dan seperti apa proses penentuan harga di pedagang besar, agen dan rantai distribusi di atasnya sehingga dapat diketahui apa penyebab rendahnya harga pembelian kelapa di tingkat petani.

"Demi kelancaran kegiatan penelitian ini, diharapkan kepada para pelaku usaha dan pabrikan bersikap kooperatif dalam memberikan data dan informasi terkait dengan perdagangan kopra" ujarnya. (nat/tribun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved