Terdakwa Bandar Sabu Emosional, Ame Berteriak Sebut Hakim Sok Lugu

Ame Cs bersama dua kurir kaki tangannya, Juna dan Suratman kerap berdalih dan membangun opini mereka dijebak polisi.

Terdakwa Bandar Sabu Emosional, Ame Berteriak Sebut Hakim Sok Lugu
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Sidang lanjutan Ame Cs di Pengadilan Negeri Binjai. 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Terdakwa bandar sabu, Suarni alias Ame yang juga positif sebagai pengguna aktif tak sadar diri di hadapan majelis hakim.

Ame tak bisa mengontrol tempramentalnya saat duduk di bangku pesakitan dalam sidang beragenda mendengarkan keterangan terdakwa, di ruang Cakra PN Binjai, Kamis (11/7/2019).

Ame Cs bersama dua kurir kaki tangannya, Juna dan Suratman kerap berdalih dan membangun opini mereka dijebak polisi.

Ame dalam sidang kerap meluapkan emosinya bahwa dirinya tidak tahu apa-apa terkait penangkapan mereka dengan barang bukti 95,69 gram sabusabu.

Kali ini sidang berlangsung alot, Ame terus berdalih bahwa dia bukan bandar sabusabu. Wanita keturunan berperawakan cakil ini, terus membantah tidak ada melakukan perjanjian transaksi sabusabu di TKP penangkapan di rumah kosong.

Dia mengaku tidak ada mengajak orang berjanji untuk bertemu di rumah kosong kompleksnya. Katanya, saat digerebek polisi dia sedang menunggu orang untuk utang piutang.

Dalan sidang yang dipimpin Majelis Hakim yang diketuai Fauzul Hamdi dan hakim anggota Dedi dan David Simare-mare, Ame bersikap tidak sopan, dengan melontarkan kata-kata yang merendahkan majelis hakim.

"Aku udah jelaskan semua, Bapak ini Sok lugu," ketusnya kepada hakim Dedi yang mencecarnya terkait kronologi penangkapan, barang bukti berupa plastik bening sabusabu, dan timbangan elektrik.

Hakim Dedi menanyakan pertanyaan dengan perlahan tanpa emosi, namun Ame merasa tersudutkan ketika hakim memgkonfrontasi soal Ame residivis, pemakai aktif sabusabu, dan alasan Ame menyimpan timbangan elektrik di dalam lemari.

"Kenapa itu ada timbangan elektrik? Buat apa kamu, kenapa disimpan dalam lemari baju? Dalam lemari tepatnya di mana kamu simpan? Barang bukti sabusabu dua paket itu punya kamu?" cecar hakim Dedi.

Ame berdalih timbangan elektrik dipakai untuk kerjaannya membuat kue. Disimpan di dalam lemari agar tidak rusak akibat terjangkau tangan anak-anaknya. Soal plastik bening sabusabu, Ame bilang itu semua bekas sabusabu yang dipakainya setiap kali mgedrop.

"Ya namanya biar gak terjangkau anak-anak, itu kan timbangan sensitif. Disimpan dalam lemari, di gantungan baju. Plastik itu bekas pake saya selama ini kalau ngedrop," Aku Ame.

Ame sempat tekak leher panjang membela diri, hingga akhirnya hakim ketua meminta kuasa hukum Ame mengingatkan kliennya. Bahkan, sidang sempat diskors, untuk dilanjutkan di hari yang sama.

Sebelumnya, JPU Perwira Tarigan mendakwa Suarni alias Ame terduga bandar sabu dengan Dakwaan Primair Pasal 114 ayat (2) ‎Subsider 112 ayat (2). Sedangkan Suratman dan Juna didakwa dengan Dakwaan Primair Pasal 114 ayat (2) Subsidair 112 ayat (2) serta Lebih Subsidair 132.

Diketahui, dari keempat tersangka polisi menyita barang bukti sebanyak 95,69 gram yang dikemas dalam sebungkus plastik besar dan dua paket kecil. Selain itu, polisi juga menyita satu butir pil ekstasi warna hijau, satu timbangan elektrik, dua skop berbahan pipet, 50 plastik klip besar transparan, satu kotak lampu dan satu dompet yang diduga sebagai tempat menyimpan sabu serta unit telepon genggam.

Keempat tersangka diciduk polisi dalam rumah, di Jalan Petai Pasar 2 Cina, Komplek Mahkota Permai, Binjai Utara, Senin (29/10) lalu. Hasil penyidikan polisi, Suarni merupakan bandar atau pemilik narkoba. Sedangkan Pohan (DPO) merupakan tangan kanan Suarni. Dua tersangka sisanya yakni Suratman dan Juna merupakan kaki tangan bandar.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved