Tergiur Upah Besar, Tarmizi Alih Profesi dari Pelaut Jadi Bandar Sabu Jaringan Malaysia

Seorang bandar narkoba bersama anak dan menantunya diamankan dengan aset yang disita mencapai hampir Rp 6 miliar.

Tergiur Upah Besar, Tarmizi Alih Profesi dari Pelaut Jadi Bandar Sabu Jaringan Malaysia
TRIBUN MEDAN / DIMAZ
Tersangka Tarmizi saat diiterogasi oleh Dir TPPU BNN 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali mengungkap bisnis narkoba yang disertai tindak pidana pencucian uang (TPPU). Seorang bandar narkoba bersama anak dan menantunya diamankan dengan aset yang disita mencapai hampir Rp 6 miliar.

Pengungkapan kasus ini merupakan hasil pengembangan dari penangkapan barang bukti 4 ban dalam mobil yang berisi narkotika golongan I jenis sabu sebanyak 70 bungkus dengan berat 81.862,6 gram, ekstasi 20 bungkus dengan jumlah 102,657 butir, pada 2 Juli 2019 lalu.

Dalam penangkapan itu, diamankan para tersangka di antaranya Adi Putra, Ardiansyah, Fadli, Hanafi, Amirudin, Zul AB, Nazarudin dan Tarmizi.

Saat diinterogasi, tersangka Tarmizi mengaku sudah tiga kali menyelundupkan barang haram narkoba tersebut.

"Sudah tiga kali menyelundupkan. Barang dari Malaysia punya Pak Syamsir," kata Tarmizi di BNNP Sumut, Jumat (12/7/2019).

Tarmizi menceritakan bahwa ia mulai menggeluti bisnis narkoba sejak tahun 2018 dalam kurun waktu beberapa bulan saja, kerjasama yang apik antara Tarmizi dan Syamsir, sudah berhasil menyelundupkan tiga kali narkoba dalam skala besar.

Awal perkenalan Tarmizi dan Syamsir melalui telepon seluler. Saat pergi ke Medan Tarmizi di pertemukan dengan Syamsir. Mereka selalu bertemu di pinggir jalan dekat salah satu hotel di kawasan Jalan Abdullah Lubis.

Menurut Tarmizi, Syamsir mempunyai tutur kata seperti orang Malaysia. Tapi Tarmizi tak mengetahui pasti apakah Syamsir memang benar-benar orang negeri jiran tersebut.

"Kenal Syamsir melalui kawan bernama Ismail yang awalnya pergi ke Malaysia. Dia tanya ada mau kerja enggak. Saya bilang mau kerja apa. Dia (Ismail) bilang nanti temannya yang di Malaysia telepon. Terus Ismail pergi ke Malaysia naik Fery dari Tanjungbalai," urainya tersangka yang memiliki empat orang anak ini.

Untuk TPPU, Tarmizi mengaku memang menggunakan keluarga sebagai sarana melancarkan bisnis haram itu. Setelah disarankan oleh Syamsir buat rekening, agar mudah kirim uang.

"Buat rekening ya biar mudah kirim uang. Separuh kesana separuh kemari," ujar Tarmizi menirukan perkataan Syamsir.

"Pertama kali menyelundupkan dapat duit Rp 30 juta di bagi-bagi. Waktu itu Syamsir bilang gitu," beber Tarmizi.

Sementara itu, menantu sang bandar, Amiruddin mengaku tidak pernah tahu kenapa uang di rekening tabungannya bisa sampai miliaran.

"Saya disuruh buka rekening akhir 2018, tapi saya bingung enggak begitu tahu untuk apa, dia (bapak mertua) hanya bilang untuk kerjaan," kata Amiruddin.

"Soal narkotika saya enggak tahu. Tapi memang saya curiga pas buka rekening kok uang yang masuk banyak kali. Cuma nggak berani tanya takut," jelas Amiruddin.

(mak/tribun-medan.com)

Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved