Inovasi Petani Kopi Lintong di Setiap Kemasan Kopi

Kabupaten Humbang Hasundutan adalah salah satu daerah penghasil kopi yang terkenal di Sumatera Utara.

Inovasi Petani Kopi Lintong di Setiap Kemasan Kopi
TRIBUN MEDAN/HO
ISNER Manalu sedang menyeduh Kopi Lintong Premium yang ia produksi Lewat brand Jo&Ke; Coffee. 

Kabupaten Humbang Hasundutan adalah salah satu daerah penghasil kopi di Sumatera Utara. Dari kabupaten yang berjarak 275 kilometer dari kota Medan ini, lahirlah Kopi Lintong yang kualitasnya sudah tidak diragukan lagi hingga ke mancanegara. Inovasi para petani kopi menjadikan Kopi Lintong kini bisa dinikmati dalam berbagai varian dan bahkan dijual di situs e-commerce dunia. Bagaimana ceritanya?  

TRIBUN-MEDAN.COM, DOLOKSANGGUL
- Senyum Gani Silaban (43) tak berhenti kala membaca pesan yang masuk ke ponselnya pagi itu, Selasa (12/11/2018). Cerahnya matahari pagi yang menyinari tempat tinggalnya di Desa Nagasaribu, kecamatan Lintong Ni Huta, kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara melengkapi senyumnya. Adalah situs jual beli (e-commerce) internasional, Amazon yang menjadi alasan Gani untuk tersenyum.                  

Nama toko “KSU POM Humbang Cooperative” di Amazon yang menjual Wild Kopi Luwak sudah direview oleh 354 pembeli dan mendapat rating bintang 4. Sejalan dengan rating tersebut, review-review yang diberikan pembeli juga mayoritas menggambarkan kepuasan terhadap produk yang dijual.

“Saya senang, karena varian Wild Kopi Luwak yang dijual di Amazon ternyata mendapat sambutan positif dari konsumen di berbagai belahan dunia,” kata Gani kepada Tribun.

Gani bercerita, Wild Kopi Luwak adalah salah satu varian kopi kemasan yang dihasilkan  Sumatera Lintong Coffee, brand kopi yang dikelola Koperasi Serba Usaha Petani Organik Mandiri (KSU POM) Humbang Cooperative. Nama KSU POM Humbang Cooperative ini jugalah yang dipakai Gani untuk menjual Wild Kopi Luwak di Amazon.

SelainWild Kopi Luwak, ada dua varian kopi lainnya yang dihasilkan KSU POM Humbang Cooperative yakni Wild Luwak dan Premium. Bedanya hanya di wilayah pemasaran saja. Wild Kopi Luwak khusus dipasarkan di luar negeri, sedangkan Wild Luwak dan Premium khusus untuk pasar dalam negeri. “Tak mudah bagi kami untuk menembus Amazon. Sejak KSU POM memproduksi kopi kemasan tahun 2011 lalu, varian Wild Kopi Luwak baru bisa dijual di Amazon tahun 2014. Butuh waktu tiga tahun,” kata Gani.

Gani adalah sosok di balik lahirnya Sumatera Lintong Coffee hingga varian Wild Kopi Luwak berhasil menembus pasar luar negeri lewat Amazon. Sejatinya, Gani bukanlah pengusaha ekspor impor kopi, melainkan seorang petani kopi biasa. Namun, berkat inovasi dalam pengolahan kopi, dirinya berhasil mengolah Kopi Lintong dari kebun kopi miliknya dan milik petani lain menjadi kopi kemasan (konsumsi) yang khas dan berkualitas.

Gani bercerita, dirinya sempat menjadi pemandu wisata di Bali hingga tahun 1999. Dirinya pulang ke kampung halamannya, Desa Nagasaribu untuk menemani ibunya yang tinggal sendirian. Gani menolak kalau kepulangannya ke Desa Nagasaribu karena saat itu Indonesia sedang dilanda kiris moneter.  “Saat pulang ke Desa Nagasaribu, saya memang mendapati banyak teman-teman seumuran saya yang juga pulang kampung karena terkena pemutusan hubungan kerja dari perusahaannya,” kenang Gani.

Sadar kalau orangtua mereka punya kebun untuk diolah, Gani dan teman-temannya pun memutuskan menjadi petani. Di lahan peninggalan orangtuanya, Gani menanam sayur-sayuran seperti cabai, kentang, dan kol. Namun, pesona Kopi Lintong sebagai kopi asli Sumatera Utara yang berasal dari daerah Lintong Nihuta, Humbang Hasundutan dan sudah terkenal sampai ke mancanegara membuat Gani ikut tergoda untuk menanam kopi. Sejak tahun 2003, Gani pun mulai menanam kopi.

Tahun 2004, Gani bergabung dengan puluhan kelompok tani dan ratusan petani kopi lainnya dari kecamatan Lintong Nihuta, Siborong-borong, dan Dolok Sanggul ke dalam organisasi Asosiasi Petani Kopi Lintong Organik (APKLO). APKLO pun bekerjasama dengan berbagai organisasi (program) internasional seperti Wakhaciai Project dan Fair Trade Labelling Organization  (FLO). Di APKLO, Gani banyak belajar tentang pengolahan kopi. Saat ikut dalam program Wakhaciai Project, Gani dan petani-petani kopi lainnya mendapat pendampingan tentang bagaimana menanam dan mengolah kopi hingga layak dijual ke pasar.

“Bimbingan-bimbingan yang didapat petani selama pendampingan bersama Wakhaciai Project menunjukkan hasil. Petani-petani melalui APKLO berhasil mengekspor kopi ke Jepang selama proses pendampingan itu. Tahun 2008, saya juga mendapat kesempatan belajar pertanian organik dan kepemimpinan di Jepang melalui program Asian Rural Institue (ARI). Saya di Jepang selama sembilan bulan,” katanya.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved