Produksi CPO Meningkat Tapi Harga Menurun, Indonesia Harus Cari Pasar Baru

Penurunan harga CPO ini disebabkan perdagangan yang sedang lesu. Indonesia harus mencari pangsa pasar baru.

Produksi CPO Meningkat Tapi Harga Menurun, Indonesia Harus Cari Pasar Baru
Tribun Medan/Natalin Sinaga
Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut Timbas Prasad Ginting di Kantor GAPKI Sumut, Senin (15/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com-Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut, Timbas Prasad Ginting mengatakan produksi CPO meningkat tapi permintaan sedikit. Diakuinya pula dalam sebulan terakhir harga CPO cenderung menurun.

Ia menjelaskan, pada 19 Juni harga CPO senilai Rp 6,516,48 dan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Rp 1,396.19.

Pada tanggal 26 Juni CPO senilai Rp 6.370, 34 dan TBS Rp 1.354. Untuk tanggal 3 Juli CPO dihargai Rp 6.300,16 dan TBS senilai 1.341,28.

"Dari 19 Juni yang lalu, CPO senilai Rp 6.516, satu minggu kemudian turun menjadi Rp 6.370 jadi turun Rp 146. Harga CPO untuk periode tanggal 10 Juli hingga 16 Juli itu senilai Rp 6.232,14 dan TBS diharga Rp 1.325,77," ujar Timbas di Kantor GAPKI Sumut, Jalan Murai 2 Komp. Tomang Elok No.40, Simpang Tj., Kec. Medan Sunggal, Senin (15/7/2019).

Dikatakannya, penurunan harga CPO ini disebabkan perdagangan yang sedang lesu. Menurutnya, Indonesia harus mencari pangsa pasar baru.

"Pangsa pasar CPO itu paling besar ke India, China, Pakistan lalu Eropa. Kita harus mencari pasar baru untuk CPO ke Afrika, Rusia, Timur Tengah dan lain-lain. Selain itu, bagaimana pemerintah mengeluarkan regulasi untuk meningkatkan pemakaian biofuel di Indonesia. Atau ditambah pemakaian biodiesel di dalam negeri untuk meningkatkan pemakaian dalam negeri. Pln itu supaya memakai diesel berapa juta ton bisa diserap dan kapal-kapal bisa memakai itu B20," jelasnya.

Di sisi lain, kata Timbas, yang menjadi masalah mengenai harga TBS ini yang dihargai Rp 1.300, tapi untuk tingkat petani justru nilainya malah Rp 600.

"Harga TBS itu dibawah 50 persen dan harga ini bisa rendah mungkin karena mutu buah yang rendah. Selain itu mereka (petani) masih menjual sawit kepada tengkulak. Petani kita itu sebaiknya mau bersatu dalam bentuk wadah koperasi,
agar koperasinya itu bermitra sama pabrik.

Timbas mengimbau kepada petani agar membuat wadah koperasi dan bermitra dengan pabrik terdekat sehingga mendapat pembinaan cara berkebun yang baik.

"Untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) juga memberi dana hibah, untuk sawit yang sudah tua mendapat Rp 25 juta per hektar. Jadi maksimal ada empat hektar dapat Rp 100 juta dan harus replanting dengan pengawasan," ujarnya. (nat/tribun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved