Bangkitkan Kembali Kejayaan Tari Serampang Dua Belas Era Soekarno

Tarian yang dimainkan secara berpasang-pasangan ini memiliki sejarah panjang dan berjaya di zaman Presiden RI Pertama Soekarno.

Bangkitkan Kembali Kejayaan Tari Serampang Dua Belas Era Soekarno
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Wawancara Swadaya Masyarakat Bahorok pencetus Festival Serampang Duabelas 18-20 Juli 2019 sebagai upaya mengembalikan kejayaan Tari Serampang Duabelas. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Nama besar Tari Serampang Duabelas, sebagai tarian khas Sumatera Utara bagaikan kehilangan panggungnya.

Padahal, Tarian yang dimainkan secara berpasang-pasangan ini memiliki sejarah panjang dan berjaya di zaman Presiden RI Pertama Soekarno.

Bahkan, pada saat itu, Tari khas Melayu ini melanglangbuana ke Uni Sovyet China dan berbagai negara lainnya

Hal itulah yang menggagas Khairul Anwar dan kawan-kawan dari Swadaya Masyarakat Bahorok untuk mengembalikan lagi kejayaan Tari Serampang Duabelas melalui Festival Serampang XII yang dilaksanakan dalam pentas Bahorok Art. Festival yang dilaksanakan secara sukarela ini diharapkan menjadi semangat meningkatkan kembali minat warga dari warisan budaya bangsa.

Bagi Khairul, seiring berjalannya waktu Sumber Daya Alam (SDA) seperti hutan dan sungai kerap terkikis oleh ulah-ulah jahil tangan manusia. Padahal di beberapa daerah, tak terkecuali Bahorok, objek tersebut merupakan keunggulan warga setempat.

"Tapi kita hendaknya berpikir lagi, banyak hutan-hutan yang digunduli. Apa terus mengharapkan objek alam sebagai wisata, kenapa enggak disandingkan dengan warisan tak bendanya?, seperti tari-tarian dan keseniannya. Padahal kita punya, kan," ujar Khairul kepada wartawan, Selasa (16/7/2019) di Taman Budaya, Medan

Pria yang kerap berpetualang menyusuri daerah-daerah di Indonesia ini kerap menyesali atas ketertinggalan Sumatera Utara, dalam mengembangkan budaya. Ia mencontohkan keberhasilan Jawa Tengah dengan Dataran Tinggi Dieng yang kerap menggelar Festival Jazz, Jogya dengan keseniannya atau Bali dengan tarinya.

Bahkan jika dibandingkan lebih dekat, Tari Serampang Duabelas masih tertinggal dengan tari tradisional tetangga asal Aceh, Saman. Imbuhnya, Saman sudah hadir di mana-mana, dikenal di Eropa. Sementara kawasan Bahorok, masih dikenal hanya Orangutan Sumatera, Burung Murai Batu dan Sungainya saja.

"Kita ingin lebih dari itu," katanya

Ia pun mengaku menguras dana pribadi agar kampung halamannya dapat bercerita banyak dari keseniannya, yakni Tari Serampang Duabelas. Ia bahkan tak mengendurkan langkah, meski berbagai upaya menggaet dukungan pemerintah tampaknya belum membuahkan hasil.

Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved