Divisi Sastra Teater O USU, Mencipta dan Memelihara Karya Sastra pada Era Millenials

Divisi sastra Teater 'O' telah berkontribusi aktif menciptakan puluhan musikalisasi puisi,

Divisi Sastra Teater O USU, Mencipta dan Memelihara Karya Sastra pada Era Millenials
TRIBUN MEDAN/HO
Satu di antara kejuaraan yang diraih anggota divisi sastra Teater 'O' USU. Divisi sastra Teater 'O' telah berkontribusi aktif menciptakan puluhan musikalisasi puisi, naskah teater, puisi, dan lainnya. 

TRIBUN-MEDAN.com - Karya sastra adalah ekspresi kehidupan, selama kehidupan masih ada selama itu pula karya sastra tetap eksis.

Demikianlah kata yang mempedomani sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Sastra 'O'.

Sastra 'O' merupakan salah satu divisi di bawah naungan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Teater 'O' Universitas Sumatera Utara (USU).

Telah ada sejak puluhan tahun, Divisi sastra Teater 'O' telah berkontribusi aktif menciptakan puluhan musikalisasi puisi, naskah teater, puisi, dan lainnya. Selain itu beberapa musikalisasi puisi, dan karya sastra lainnya rutin berkompetisi dan mendapatkan penghargaan.

Saat berbincang dengan Tribun Medan, Demisioner Ketua Divisi Sastra Teater 'O', Putri Alfiah mengatakan anggota yang tergabung dalam divisi sastra biasanya menyukai aktivitas menulis atau membaca.

"Sastra bagi saya adalah suatu keindahan dalam hal apapun, baik jenis, kata, bahasa , gerak, dan lainnya, jadi anggota kita nggak terbatas hanya menulis saja, karena bagi saya karya sastra yang baik itu dapat melingkupi berbagai hal," kata putri.

Bagi Putri sastra sangat penting di era millenials karena sastra sangat dibutuhkan setiap orang sebagai ungkapan perasaan, atau untuk menyampaikan pesan. Untuk era Millenials ini, kata Putri anak muda dapat berekpresi dengan membuat karya, apalagi di zaman ini sudah tersedia media digital sehingga lebih mudah dijangkau orang banyak.

"Ada puluhan karya sastra milik Teater 'O' ada yang dibukukan, dikompetisikan ataupun di pentaskan. Terutama muspus (musikalisasi puisi) biasanya puisi WS Rendra atau Chairil Anwar kita jadikan muspus, itu salah satu cara agar generasi Millenials bisa dengan mudah mengenal sastrawan kita, tapi ada juga Muspus yang kita buat sendiri," katanya.

Putri mengatakan dalam menciptakan musikalisasi puisi biasanya divisi sastra dan Musik kerap berkolaborasi. Beberapa karya muspus seperti Sajak Putih, Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar, Ibunda karya WS Rendra sudah cukup populer di kalangan anak muda Medan.

Bukan hanya musikalisasi puisi, anggota yang tergabung dalam divisi sastra juga rutin mengikuti kompetisi puisi, monolog, hingga pantun. Putri sendiri mengaku selama belajar di Teater 'O' Ia berhasil mendapat juara dari lomba puisi.

Halaman
12
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved