'Memperkosa Alam Toba' Pengamat: Bagaikan Menabung Mala Petaka di Bumi Samosir

Fernando Sitanggang menjelaskan oknum-oknum terus 'memperkosa' alam bagai menabung mala petaka di bumi Samosir.

'Memperkosa Alam Toba' Pengamat: Bagaikan Menabung Mala Petaka di Bumi Samosir
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Aktivitas penyadapan getah pinus di Samosir baik legal maupun ilegal tetap berjalan, seperti terpantau di beberapa Desa di lokasi pebukitan Samosir, dan salah satunya di Desa Parhorasan, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir, Kamis (18/7/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Aktivitas penyadapan getah pinus di Samosir baik legal maupun ilegal tetap berjalan, seperti terpantau di beberapa Desa di lokasi pebukitan Samosir, dan salah satunya di Desa Parhorasan, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir, Kamis (18/7/2019).

Pemerhati Lingkungan Kawasan Danau Toba, Fernando Sitanggang menjelaskan oknum-oknum terus 'memperkosa' alam bagaikan menabung mala petaka di bumi Samosir. 

"Praktik penyadaban getah pinus tanpa aturan yang prosedural baik di kawasan hutan maupun pribadi terus berlangsung di Samosir, sehingga mengancam kelestarian pinus penjaga lingkungan yang dampaknya sama-sama mengakibatkan bencana," ujarnya. 

Amatan Tribun, di sekitar Desa Parhorasan Kecamatan Pangururan memang terdapat pohon pinus yang tengah disadap getahnya. Pohon pinus dikorek tepat di bagian bawah batang. 

Getah ditampung memakai 'cup' di tiap batang yang dikeruk sekeliling pohon. Jumlah pengerukan dilakukan berdasarkan besar batang pohon. Semakin besar diameter pohon tersebut, maka semakin banyak pula jumlah lobang untuk mengalirkan getah. 

Raja Tamba, Warga Ronggur ni Huta berbincang dengan Tribun, mengaku melakoni penyadap getah di lahan miliknya.

Diakuinya terkait ijin dari pemerintah memang tidak ada karena penyadapan dilakukan di lahan sendiri. 

Sesuai pengalamannya, agar pinus bertahan ada aturan tertentu yang harus diterapkan dalam menyadap getah.

Batang pinus yang layak disadap haruslah berusia minimal 20 tahun dan jumlah lobang pengerukan tidak boleh dari enam lobang. 

"Jadi sesuai anjuran perusahaan yang menampung melalui toke kami dulu, disampaikan lobangnya tidak bisa lebih dari enam," sebutnya. 

Halaman
12
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved